Belum lama ini, seorang rekan saya baru saja berkonsultasi perihal perencanaan keuangan pribadinya. Rekan saya tersebut, sebut saja Ardan, adalah seorang pria berusia 38 tahun, bekerja sebagai karyawan BUMN. Ardan memiliki seorang istri yang berusia 35 tahun. Istrinya pun juga bekerja sebagai karyawan swasta. Mereka sudah menikah selama 10 tahun dan memiliki 3 orang anak.
Pada awalnya Ardan bertanya kepada saya perihal investasi di pasar
modal, yaitu saham. Ardan tertarik untuk berinvestasi di saham karena dia ingin
uangnya bertambah banyak. Maka Ardan pun
bertanya kepada saya saham apa yang bagus, kapan waktu membeli yang tepat, dan
lain sebagainya. Apalagi dia telah mendengar masukan dari rekannya yang sudah
berkecimpung di dunia saham, bahwa saat ini adalah saat yang tepat karena
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang dalam fase bullish.
Setelah saya jelaskan panjang lebar mengenai saham, bagaimana cara
memilih saham, bagaimana caranya melakukan analisa saham secara teknikal dan
fundamental, kemudian saya bertanya balik kepada Ardan, kapan Ardan akan menghubungi
perusahaan sekuritas untuk mulai berinvestasi di saham? Jawaban dari Ardan
adalah ketika dia punya uang sisa.
Jawaban ini cukup mengejutkan bagi saya, karena dalam pandangan
saya, Ardan yang bekerja di sebuah BUMN ini seharusnya memiliki
pendapatan yang boleh dibilang sudah cukup besar. Apalagi ditunjang dengan istrinya
yang juga memiliki penghasilan. Namun kenyataannya
untuk melakukan investasi pun ternyata Ardan tidak memiliki uang.
Padahal sebelumnya saya sudah menjelaskan bahwa untuk melakukan
investasi di instrumen saham, maka jumlah dana awal yang dibutuhkan tidaklah
besar. Cukup membuka rekening investasi di perusahaan sekuritas, dan kemudian
mengisi rekening investasi tersebut dengan dana
investasi kita. Berapa jumlahnya? Ya terserah kita, apabila kita ingin
membeli saham sebuah perusahaan yang per lembar sahamnya seharga Rp500, maka
tentu kita harus menyediakan uang dalam rekening investasi sebesar Rp50.000
untuk membeli saham perusahaan tersebut sebanyak 1 lot. Karena peraturan di
Bursa Efek Indonesia mengharuskan nasabah membeli moinimal sejumlah 1 lot,
yaitu 100 lembar. Artinya Rp500 per lembar dikalikan 100 lembar sama dengan
Rp50.000.
Nah, saya kemudian berpikir, jika untuk membeli saham senilai
Rp50.000 saja Ardan masih enggan menyediakan dananya, apalagi untuk mencapai
tujuan keuangannya ya? Ardan beralasan karena masih mencicil rumah. Selain itu biaya sekolah ketiga anaknya
cukup besar. Belum lagi les-les yang diikuti anaknya. Ardan juga mengeluhkan
anak-anaknya yang selalu meminta dibelikan mainan setiap kali mereka pergi ke
mal. Belum lagi untuk makan siang
sekeluarga saat di mal tersebut. Semua hal tersebut menguras gajinya.
Untung saja istrinya juga bekerja sehingga cicilan rumah masih dapat dibayar
tepat waktu. Apakah Anda juga memiliki kondisi yang sama dengan Ardan sekarang
ini? Sulit berinvstasi? Jika iya, simak artikel berikut ini untuk mencari
solusinya.
Untuk melakukan investasi tentu diperlukan modal, atau dana untuk
berinvestasi. Baik itu di instrumen saham maupun instrumen lainnya, seperti
obligasi, properti, dan bisnis. Nah, bagaimana jika kasusnya kita sudah kehabisan
uang untuk berinvestasi karena uangnya sudah kita gunakan untuk keperluan yang
lain, belanja, SPP anak, tansportasi, pembayaran utang dan keperluan penting
lain.
Salah satu solusinya adalah dengan mengeluarkan dana investasi kita
tersebut di awal. Jadi tidak ada lagi cerita kita kehabisan dana untuk
berinvestasi, karena kita telah melakukan investasi tersebut di awal setelah
kita menerima penghasilan. Dalam hal ini kita harus melakukan seleksi
prioritas, mana yang menjadi pos pengeluaran terpenting yang harus didahulukan
terlebih dulu.
Mari kita coba bahas satu-persatu jenis pengeluaran kita dan tentukan ada di kelompok mana pengeluaran untuk investasi. Lho, Anda mungkin bertanya-tanya, kan ini saya mau investasi, kok malah jadi pengeluaran? Tenang pembaca, jadi jika di artikel ini dikatakan pengeluaran, maka artinya uang yang kita keluarkan dari penghasilan kita. Coba Anda pikir, untuk investasi tentu menggunakan uang bukan? Artinya kita mengeluarkan uang dari kantong kita untuk masuk ke instrumen investasi.
Meskipun rekening investasi tersebut masih atas
nama kita, tapi sebaiknya kita tidak menggabungkan rekening investasi tersebut
dengan rekening utama atau rekening belanja kita. Hal ini kelak akan berguna untuk
memonitor berapa saldo investasi kita sekarang. Itulah mengapa kita harus mengelompokkan
investasi sebagai salah satu pos pengeluaran.
Nah, apa saja jenis pengeluaran kita? Saya mencoba mengelompokkan
pos-pos pengeluaran ke dalam lima kelompok utama. Sebenarnya sih bebas saja ya, mau dijadikan satu
atau empat kelompok pun juga bisa, yang penting Anda bisa membedakan secara
jelas peruntukannya. Kelompok pertama adalah pengeluaran sosial. Pengeluaran
ini meliputi pengeluaran kita yang terkait amal dan hal-hal sosial lainnya.
Contohnya adalah pengeluaran untuk zakat, sedekah, perpuluhan, dan sumbangan.
Anda juga bisa memasukkan angpao pernikahan dalam kelompok pengeluaran ini.
Kelompok pengeluaran kedua adalah pembayaran kewajiban. Apa itu
kewajiban? Yaitu utang. Anda mungkin memiliki utang kartu kredit? Utang kredit
pemilikan rumah? Utang kepemilikan kendaraan bermotor? Atau jenis utang-utang
lainnya, seperti utang kredit panci mungkin? Memangnya masih ada ya kredit
panci? Mungkin saja, lha wong harga
panci sekarang bisa jutaan rupiah dan Anda membelinya menggunakan cicilan kartu
kredit selama 6 bulan, hehehe… Maka untuk jenis pengeluaran untuk pembayaran
kewajiban ini Anda masukkan ke dalam kelompok pengeluaran kedua.
Kelompk pengeluaran ketiga adalah pengeluaran untuk proteksi. Pengeluaran untuk proteksi adalah asuransi dan
juga tabungan untuk dana darurat. Pembayaran premi asuransi jiwa Anda, kemudian
juga pembayaran premi asuransi kesehatan Anda. Prinsip dari asuransi adalah
proteksi, yaitu untuk perlindungan. Asuransi jiwa adalah proteksi untuk
keluarga dan ahli waris yang ditinggalkan. Coba bayangkan apabila besok Anda
meninggal dunia. Kira-kira anak istri Anda akan bisa bertahan hidup dengan cara
apa? Apakah istri Anda akan mulai bekerja? Atau mungkin anak-anak Anda harus keluar dari sekolah dan bekerja untuk
menyambung hidup? Coba Anda renungkan.
Kemudian untuk asuransi kesehatan, jika ada salah satu anggota
keluarga sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang cukup besar, apakah Anda
mampu membayar biaya pengobatannya? Apakah Anda sudah ikut BPJS Kesehatan? Belum?
Apakah Anda dapat membayarnya dengan uang dari tabungan dana darurat? Maka
itulah pentingnya Anda menyiapkan tabungan dana darurat.
Kelompok pengeluaran keempat adalah pengeluaran investasi. Pengeluaran investasi ini Anda lakukan untuk memenuhi tujuan keuangan Anda. misalkan Anda memiliki tujuan memiliki sebuah rumah dengan harga 1 milyar rupiah 5 tahun lagi. Anda berencana membeli rumah tersebut dengan menggunakan KPR, sehingga Anda sudah tahu pada tahun kelima harus menyiapkan dana uang muka sebesar 200 juta Rupiah.
Dan kelompok pengeluaran yang terakhir atau pengeluaran kelima adalah
pengeluaran untuk keperluan rutin sehari-hari. Contohnya belanja bulanan
sehari-hari, uang SPP anak. Contoh lainnya pembayaran listrik, air, biaya
transportasi atau pembelian bahan bakar minyak kendaraan Anda. biaya pulsa
ponsel Anda juga sepertinya pasti menjadi biaya rutin bulanan Anda.
Jadi, agar investasi mendapatkan porsi yang sesuai dengan kebutuhan
pemenuhan tujuan keuangan kita, maka pengeluaran investasi haruslah dianggarkan
dalam pos pengeluaran bulanan kita. Berapa jumlahnya? Anda harus
menyesuaikannya dengan target pencapaian jumlah investasi Anda. Gunakanlah
instrumen investasi yang menurut Anda paling tepat untuk mencapai jumlah target
yang telah Anda tetapkan. Jangan lupa tentukan asumsi tingkat perkembangan
investasi Anda.
Apabila Anda telah melakukan hal tersebut, maka langkah selanjutnya
adalah mengeluarkan dana investasi Anda dengan segera setelah Anda menerima
pendapatan. Jadi tidak akan ada lagi cerita bahwa Anda tidak dapat berinvestasi
karena uang Anda sudah habis. Uang gaji Anda mungkin habis, tapi habisnya
karena Anda sudah menginvestasikan uang gaji Anda sesuai dengan porsinya
masing-masing.
Nah, Anda mungkin berkilah lagi, “saya kan masih punya utang, dan pembayaran utang saya saat ini besar sekali porsinya, 40% dari gaji, gimana lagi caranya mau investasi”. Itu artinya rasio pembayaran utang Anda terlalu besar. Lembaga keuangan saja umumnya mensyaratkan jumlah cicilan utang per bulan berkisar antara 30-35% pendapatan bulanan. Jika kondisinya demikian, maka tentu pembayaran utang lebih menjadi prioritas dibandingkan berinvestasi. Kalau Anda tidak bayar utang, nanti didatengin debt collector, mau?
Lha kalau tidak berinvestasi, nanti tidak dapat mencapai
tujuan keuangan? So.. segera lunasi utang Anda terlebih dulu, barulah
berinvestasi. Paling tidak kejarlah rasio pembayaran utang Anda hingga menjadi
30%, sehingga yang 10% sebelumnya Anda gunakan untuk membayar utang, dapat Anda
konversi menjadi dana untuk berinvestasi.
Maka, berinvestasilah dengan baik dan sesuai prioritas. Apabila saat
ini Anda masih kesulitan dalam mengatur cash
flow bulanan, sering kekurangan untuk belanja rutin sehari-hari, hal
tesebut akan menyulitkan Anda berinvestasi. Benahi terlebih dulu masalah
keuangan yang menjadi prioritas kemudian barulah investasi bisa mendapat
porsinya. Mudah-mudahan permasalahan keuangan Anda dapat cepat terselesaikan,
sehingga Anda dapat segera memulai berinvestasi untuk mencapai tujuan keuangan
Anda.
No comments:
Post a Comment