Saturday, 9 December 2023

Cara Menyiapkan Dana Darurat di Tengah Pandemi

Belakangan ini, tingkat penularan Covid 19 kembali meningkat. Detikcom hari Minggu, 10 Desember 2023 memuat artikel berjudul "Kasus COVID-19 'Ngegas' Lagi, Warga +62 Diminta Segera Vaksin Booster".

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7081312/kasus-covid-19-ngegas-lagi-warga-62-diminta-segera-vaksin-booster

Kita tidak akan membahas detil artikel tersebut, apalagi vaksinnya. Namun yang kita pahami adalah terjadi kenaikan kasus Covid 19 yang signifikan. Hal ini tentu cukup mengkuatirkan kita semua. Karena banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita akibat terjadinya pandemi Covid 19 di Indonesia, yang dimulai tahun 2020 dan dan baru saja berakhir di awal 2023 yang ditandai dengan pencabutan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat)



Salah satu hal yang  banyak terjadi selama pandemic Covid yang lalu adalah kasus Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK di berbagai Perusahaan. Banyak sekali karyawan yang di-PHK atau dirumahkan. Kejadian ini tentu mengagetkan para karyawan tersebut karena sangat mendadak dan di tengah ketidaksiapan keuangan, terutama tidak dimilikinya dana darurat.

Dana darurat memang berfungsi untuk digunakan pada saat kondisi darurat yang salah satunya adalah terjadinya PHK. Pada seminar-seminar saya sebelum Covid 19, saya banyak memberikan contoh kondisi darurat seperti kendaraan operasional yang rusak parah, rumah yang perlu segera direnovasi, atau terjadi musibah. Untuk kondisi  PHK, saya tidak terlalu sering memberikan sebagai contoh, karena dalam bayangan saya, siapa sih yang mau di-PHK? PHK mungkin terjadi apabila karyawannya bermasalah, atau terjadi rasionalisasi. Namun kalau rasionalisasi biasanya ada tawaran Goldeh Hand Shake, sehingga secara keuangan masih dapat terbantu.

Namun pandemic Covid 19 menyadarkan saya, bahwa walaupun kita berkinerja baik, PHK tetap saja bisa terjadi. Dan tidak pakai embel-embel GHS lagi, karena Perusahaan memang sudah tidak mampu membayar gaji karyawan, alias perusahaannya bangkrut. Bahkan untuk Anda yang saat ini bekerja di Perusahaan yang mapan pun, sebaiknya tetap mempersiapkan dana darurat, karena era ini adalah era yang penuh disruption event.

Jadi teman-teman, bagaimana cara menyiapkan dana darurat, saya akan rangkum dalam dalam pantun


Siapkanlah dana darurat,

Agar keuangan Anda tidak makin gawat

Siapkan dengan cepat dan tepat

Karena kita tidak tahu apa yang akan segera mendekat

 

Siapkan dana darurat di tempat yang mudah diakses sehingga bisa segera dipakai

Dan juga mudah dikonversi menjadi uang tunai

Besarnya 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan

Taruh di tempat yang aman


Jangan lupa follow Youtube, Instagram, dan Tiktok Mentor Keuangan


Monday, 17 April 2023

Persamaan Antara Golf dan Perencanaan Keuangan

Sebagai seorang penggembira golf dan juga seorang perencana keuangan, saya mencoba membandingkan kedua hal ini, karena menurut saya banyak hal yang menjadi persamaan antara golf dan perencanaan keuangan.


1. Persiapan

Untuk bermain golf di pagi hari, kita sudah mempersiapkan peralatan golf paling lambat malam sebelumnya. Akan sangat merepotkan jika pada pagi buta kita baru mempersiapkan perlengkapan bermain golf. Bukan tidak mungkin ada perlengkapan yang tertinggal akibat terburu-buru berangkat.

Demikian pula dengan perencanaan keuangan, maka yang disiapkan adalah data. Sebelum mulai membuat perencanaan keuangan, Anda akan ditanya oleh perencana keuangan mengenai aset, hutang, asuransi, dan investasi. Data-data Ini harus disiapkan sebelum memulai perencanaan keuangan. Tanpa data yang cukup dan akurat perencanaan keuangan yang dibuat juga akan tidak baik hasilnya.



2. Evaluasi

Dalam permainan golf, setelah kita selesai memukul, kita akan melihat seberapa jauh pukulan kita dan apakah arahnya tepat. Lokasi bola juga kita lihat, apakah di fairway atau bunker. Dari situ kita menentukan arah pukulan selanjutnya dan juga menggunakan club nomor berapa. Artinya kita melakukan evaluasi setiap selesai melakukan pukulan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Dalam perencanaan keuangan, evaluasi dilakukan secara berkala antara 6 bulan hingga setahun sekali. Bisa juga apabila ada kejadian signifikan, seperti kelahiran anak atau kenaikan gaji. Evaluasi situasi dan kondisi keuangan ini akan menentukan arah dan tindakan keuangan selanjutnya, apakah perlu menambah investasi, mengurangi pengeluaran, atau sudah boleh berhutang lebih besar.

3. Perbedaan Kemampuan

Dalam permainan golf, tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Semua orang memiliki handicap masing-masing. Kemampuan yang berbeda ini menyebabkan saat 2 orang melakukan tee shot dengan driver yang jenisnya sama, maka hasil jarak dan arah pukulannya akan berbeda. Golfer yang memiliki swing speed rendah akan memilih jenis shaft yang berbeda dengan golfer dengan swing speed tinggi.

Dalam perencanaan keuangan, semua memiliki situasi dan kondisi yang berbeda juga. Jumlah gaji beda, pengeluaran beda. Aset yang telah dimiliki berbeda. Sehingga tidak semua strategi perencanaan keuangan yang sama bisa menghasilkan output yang sama pula untuk semua orang. Perencaan keuangan akan menyesuaikan dengan kondisi serta kemampuan masing-masing orang.

4. Disiplin

Baik golf maupun perencanaan keuangan sama-sama membutuhkan kedisiplinan. Contohnya adalah dalam soal latihan. Apabila tidak sering berlatih golf, tentu akan berpengaruh kepada performa permainan. Paling tidak seminggu sekali pergi ke driving range. Sedangkan dalam perencanaan keuangan, bentuk kedisiplinannya adalah selalu mengalokasikan dana di awal gajian sehingga tidak digunaan untuk keperluan lain. Untuk menjaga kedisiplinan ini bisa menggunakan mekanisme auto debet rekening tabungan.

5. Target

Target pun sudah disusun melalui jumlah pukulan par. Kalau melebihi target maka ganjarannya birdie, eagle atau albatross. Sedangkan jika tidak memenuhi target maka bisa dapat bogey, double bogey, bahkan double par!

Dalam perencanaan keuangan, tujuan keuangan menjadi target kita, berapa jumlah uang yang harus terkumpul, serta kapan uang tersebut akan digunakan.




6. Mengatasi Rintangan

Dalam golf diperlukan konsistensi untuk menghadapi rintangan serta kekuatan fisik yang prima agar dapat terus bermain sepanjang 18 hole. Halangan alam seperti cuaca panas, hujan, serta kolam dan sungai harus mampu diatasi. Halangan buatan seperti lapangan yang dogleg dan bunker juga menjadi tantangan bagi golfer. Dalam perencanaan keuangan ada saja kondisi darurat yang terjadi sehingga mengganggu kondisi keuangan. Diperlukan kreativitas agar Anda dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi sembari tetap mengatur dan merencanakan keuangan agar tetap pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan keuangan.

7. Kesabaran

Bermain golf ibarat melawan diri kita sendiri. Kondisi emosi yang stabil akan mendukung permainan kita. Namun apabila kita memukul dengan ngotot dan penuh emosi, dijamin pukulan akan hancur. Maka dari itu dibutuhkan kesabaran dan ketenangan dalam bermain golf. Dalam perencanaan keuangan, kesabaran menantikan berbuahnya hasil investasi juga sangat diperlukan. Tidak ada ceritanya investasi berbuah manis dalam waktu singkat. Ketenangan dan kestabilan emosi dalam mengambil keputusan investasi sangat diperlukan. 


Bagaimana pembaca? Apakah masih ada hal-hal lain yang menjadi persamaan antara olahraga golf dan perencanaan keuangan? Selamat bermain golf dan merencanakan keuangan!

Friday, 3 March 2023

Investasi Menggunakan Uang Sisa

Belum lama ini, seorang rekan saya baru saja berkonsultasi perihal perencanaan keuangan pribadinya. Rekan saya tersebut, sebut saja Ardan, adalah seorang pria berusia 38 tahun, bekerja sebagai karyawan BUMN. Ardan memiliki seorang istri yang berusia 35 tahun. Istrinya pun juga bekerja sebagai karyawan swasta. Mereka sudah menikah selama 10 tahun dan memiliki 3 orang anak.

Pada awalnya Ardan bertanya kepada saya perihal investasi di pasar modal, yaitu saham. Ardan tertarik untuk berinvestasi di saham karena dia ingin uangnya bertambah banyak.  Maka Ardan pun bertanya kepada saya saham apa yang bagus, kapan waktu membeli yang tepat, dan lain sebagainya. Apalagi dia telah mendengar masukan dari rekannya yang sudah berkecimpung di dunia saham, bahwa saat ini adalah saat yang tepat karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang dalam fase bullish.

Setelah saya jelaskan panjang lebar mengenai saham, bagaimana cara memilih saham, bagaimana caranya melakukan analisa saham secara teknikal dan fundamental, kemudian saya bertanya balik kepada Ardan, kapan Ardan akan menghubungi perusahaan sekuritas untuk mulai berinvestasi di saham? Jawaban dari Ardan adalah ketika dia punya uang sisa.

Jawaban ini cukup mengejutkan bagi saya, karena dalam pandangan saya, Ardan yang bekerja di sebuah BUMN ini seharusnya memiliki pendapatan yang boleh dibilang sudah cukup besar. Apalagi ditunjang dengan istrinya yang juga memiliki penghasilan. Namun  kenyataannya untuk melakukan investasi pun ternyata Ardan tidak memiliki uang.



Padahal sebelumnya saya sudah menjelaskan bahwa untuk melakukan investasi di instrumen saham, maka jumlah dana awal yang dibutuhkan tidaklah besar. Cukup membuka rekening investasi di perusahaan sekuritas, dan kemudian mengisi rekening investasi tersebut dengan dana  investasi kita. Berapa jumlahnya? Ya terserah kita, apabila kita ingin membeli saham sebuah perusahaan yang per lembar sahamnya seharga Rp500, maka tentu kita harus menyediakan uang dalam rekening investasi sebesar Rp50.000 untuk membeli saham perusahaan tersebut sebanyak 1 lot. Karena peraturan di Bursa Efek Indonesia mengharuskan nasabah membeli moinimal sejumlah 1 lot, yaitu 100 lembar. Artinya Rp500 per lembar dikalikan 100 lembar sama dengan Rp50.000.

Nah, saya kemudian berpikir, jika untuk membeli saham senilai Rp50.000 saja Ardan masih enggan menyediakan dananya, apalagi untuk mencapai tujuan keuangannya ya? Ardan beralasan karena masih mencicil rumah. Selain itu biaya sekolah ketiga anaknya cukup besar. Belum lagi les-les yang diikuti anaknya. Ardan juga mengeluhkan anak-anaknya yang selalu meminta dibelikan mainan setiap kali mereka pergi ke mal. Belum lagi untuk makan siang  sekeluarga saat di mal tersebut. Semua hal tersebut menguras gajinya. Untung saja istrinya juga bekerja sehingga cicilan rumah masih dapat dibayar tepat waktu. Apakah Anda juga memiliki kondisi yang sama dengan Ardan sekarang ini? Sulit berinvstasi? Jika iya, simak artikel berikut ini untuk mencari solusinya.

Untuk melakukan investasi tentu diperlukan modal, atau dana untuk berinvestasi. Baik itu di instrumen saham maupun instrumen lainnya, seperti obligasi, properti, dan bisnis. Nah, bagaimana jika kasusnya kita sudah kehabisan uang untuk berinvestasi karena uangnya sudah kita gunakan untuk keperluan yang lain, belanja, SPP anak, tansportasi, pembayaran utang dan keperluan penting lain.

Salah satu solusinya adalah dengan mengeluarkan dana investasi kita tersebut di awal. Jadi tidak ada lagi cerita kita kehabisan dana untuk berinvestasi, karena kita telah melakukan investasi tersebut di awal setelah kita menerima penghasilan. Dalam hal ini kita harus melakukan seleksi prioritas, mana yang menjadi pos pengeluaran terpenting yang harus didahulukan terlebih dulu.

Mari kita coba bahas satu-persatu jenis pengeluaran kita dan tentukan ada di kelompok mana pengeluaran untuk investasi. Lho, Anda mungkin bertanya-tanya, kan ini saya mau investasi, kok malah jadi pengeluaran? Tenang pembaca, jadi jika di artikel ini dikatakan pengeluaran, maka artinya uang yang kita keluarkan dari penghasilan kita. Coba Anda pikir, untuk investasi tentu menggunakan uang bukan? Artinya kita mengeluarkan uang dari kantong kita untuk masuk ke instrumen investasi.

Meskipun rekening investasi tersebut masih atas nama kita, tapi sebaiknya kita tidak menggabungkan rekening investasi tersebut dengan rekening utama atau rekening belanja kita. Hal ini kelak akan berguna untuk memonitor berapa saldo investasi kita sekarang. Itulah mengapa kita harus mengelompokkan investasi sebagai salah satu pos pengeluaran.

Nah, apa saja jenis pengeluaran kita? Saya mencoba mengelompokkan pos-pos pengeluaran ke dalam lima kelompok utama. Sebenarnya sih bebas saja ya, mau dijadikan satu atau empat kelompok pun juga bisa, yang penting Anda bisa membedakan secara jelas peruntukannya. Kelompok pertama adalah pengeluaran sosial. Pengeluaran ini meliputi pengeluaran kita yang terkait amal dan hal-hal sosial lainnya. Contohnya adalah pengeluaran untuk zakat, sedekah, perpuluhan, dan sumbangan. Anda juga bisa memasukkan angpao pernikahan dalam kelompok pengeluaran ini.



Kelompok pengeluaran kedua adalah pembayaran kewajiban. Apa itu kewajiban? Yaitu utang. Anda mungkin memiliki utang kartu kredit? Utang kredit pemilikan rumah? Utang kepemilikan kendaraan bermotor? Atau jenis utang-utang lainnya, seperti utang kredit panci mungkin? Memangnya masih ada ya kredit panci? Mungkin saja, lha wong harga panci sekarang bisa jutaan rupiah dan Anda membelinya menggunakan cicilan kartu kredit selama 6 bulan, hehehe… Maka untuk jenis pengeluaran untuk pembayaran kewajiban ini Anda masukkan ke dalam kelompok pengeluaran kedua.

Kelompk pengeluaran ketiga adalah pengeluaran untuk proteksi.  Pengeluaran untuk proteksi adalah asuransi dan juga tabungan untuk dana darurat. Pembayaran premi asuransi jiwa Anda, kemudian juga pembayaran premi asuransi kesehatan Anda. Prinsip dari asuransi adalah proteksi, yaitu untuk perlindungan. Asuransi jiwa adalah proteksi untuk keluarga dan ahli waris yang ditinggalkan. Coba bayangkan apabila besok Anda meninggal dunia. Kira-kira anak istri Anda akan bisa bertahan hidup dengan cara apa? Apakah istri Anda akan mulai bekerja? Atau mungkin anak-anak Anda harus keluar dari sekolah dan bekerja untuk menyambung hidup? Coba Anda renungkan.



Kemudian untuk asuransi kesehatan, jika ada salah satu anggota keluarga sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang cukup besar, apakah Anda mampu membayar biaya pengobatannya? Apakah Anda sudah ikut BPJS Kesehatan? Belum? Apakah Anda dapat membayarnya dengan uang dari tabungan dana darurat? Maka itulah pentingnya Anda menyiapkan tabungan dana darurat.

Kelompok pengeluaran keempat adalah pengeluaran investasi. Pengeluaran investasi ini Anda lakukan untuk memenuhi tujuan keuangan Anda. misalkan Anda memiliki tujuan memiliki sebuah rumah dengan harga 1 milyar rupiah 5 tahun lagi. Anda berencana membeli rumah tersebut dengan menggunakan KPR, sehingga Anda sudah tahu pada tahun kelima harus menyiapkan dana uang muka sebesar 200 juta Rupiah.

Dan kelompok pengeluaran yang terakhir atau pengeluaran kelima adalah pengeluaran untuk keperluan rutin sehari-hari. Contohnya belanja bulanan sehari-hari, uang SPP anak. Contoh lainnya pembayaran listrik, air, biaya transportasi atau pembelian bahan bakar minyak kendaraan Anda. biaya pulsa ponsel Anda juga sepertinya pasti menjadi biaya rutin bulanan Anda.

Jadi, agar investasi mendapatkan porsi yang sesuai dengan kebutuhan pemenuhan tujuan keuangan kita, maka pengeluaran investasi haruslah dianggarkan dalam pos pengeluaran bulanan kita. Berapa jumlahnya? Anda harus menyesuaikannya dengan target pencapaian jumlah investasi Anda. Gunakanlah instrumen investasi yang menurut Anda paling tepat untuk mencapai jumlah target yang telah Anda tetapkan. Jangan lupa tentukan asumsi tingkat perkembangan investasi Anda.



Apabila Anda telah melakukan hal tersebut, maka langkah selanjutnya adalah mengeluarkan dana investasi Anda dengan segera setelah Anda menerima pendapatan. Jadi tidak akan ada lagi cerita bahwa Anda tidak dapat berinvestasi karena uang Anda sudah habis. Uang gaji Anda mungkin habis, tapi habisnya karena Anda sudah menginvestasikan uang gaji Anda sesuai dengan porsinya masing-masing.

Nah, Anda mungkin berkilah lagi, “saya kan masih punya utang, dan pembayaran utang saya saat ini besar sekali porsinya, 40% dari gaji, gimana lagi caranya mau investasi”. Itu artinya rasio pembayaran utang Anda terlalu besar. Lembaga keuangan saja umumnya mensyaratkan jumlah cicilan utang per bulan berkisar antara 30-35% pendapatan bulanan. Jika kondisinya demikian, maka tentu pembayaran utang lebih menjadi prioritas dibandingkan berinvestasi. Kalau Anda tidak bayar utang, nanti didatengin debt collector, mau? 

Lha kalau tidak berinvestasi, nanti tidak dapat mencapai tujuan keuangan? So.. segera lunasi utang Anda terlebih dulu, barulah berinvestasi. Paling tidak kejarlah rasio pembayaran utang Anda hingga menjadi 30%, sehingga yang 10% sebelumnya Anda gunakan untuk membayar utang, dapat Anda konversi menjadi dana untuk berinvestasi.

Maka, berinvestasilah dengan baik dan sesuai prioritas. Apabila saat ini Anda masih kesulitan dalam mengatur cash flow bulanan, sering kekurangan untuk belanja rutin sehari-hari, hal tesebut akan menyulitkan Anda berinvestasi. Benahi terlebih dulu masalah keuangan yang menjadi prioritas kemudian barulah investasi bisa mendapat porsinya. Mudah-mudahan permasalahan keuangan Anda dapat cepat terselesaikan, sehingga Anda dapat segera memulai berinvestasi untuk mencapai tujuan keuangan Anda.

 


 

Sunday, 18 December 2022

4 Pos Anggaran Keluarga yang Wajib Disiapkan

Salah satu pertanyaan populer yang sering sekali ditanyakan kepada saya adalah bagaimana cara mengatur pola keuangan keluarga. Berapa persen yang harus ditabung, berapa persen yang harus diinvestasikan, dan berapa yang boleh digunakan untuk healing. Macam-macam memang kebutuhan manusia, tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang. Semua memiliki kebutuhan yang berbeda. Kalaupun ada yang memiliki kebutuhan yang sama, terkadang kondisi keuangannya berbeda.



Satu hal yang sama dan pasti adalah, Anda pasti akan menggunakan uang tesebut. Lha, kan uangnya ditabung, mas. Tidak digunakan. Nah disini kita bicara mengenai pos-pos penggunaan pendapatan. Termasuk tabungan. Jadi mindsetnya adalah, walaupun untuk tabungan atau investasi, tetap itu dianggap sebagai penggunaan, atau mungkin bisa juga deh digunakan istilah pengeluaran, suka-suka Anda aja. Istilah kerennya untuk tulisan ini adalah, budgeting.

Ada satu metode yang sangat umum dgunakan untuk melakukan budgeting, yaitu metode 10 20 30 40. Metode ini membagi pendapatan ke dalam 4 bagian utama, dengan porsi masing-masing sebesar 10%, 20%, 30% dan 40%.

1.       10% adalah untuk kepentingan agama dan sosial

Contoh dari pengeluarannya adalah zakat, sedekah, perpuluhan, sumbangan, angpao pernikahan, dan pengeluaran lain yang sejenis. Bagian ini ditempatkan pertama kali di depan tidak lain tidak bukan karena memang ini adalah pos pengeluaran yang paling penting, karena dampaknya sangat signifikan (nantinya). Ya, Anda mungkin menganggap sedekah, misalnya, tidak memberikan dampak apapun saat ini, namun itu sebenarnya bisa menjadi tabungan untuk di akhirat nanti.



Inti dari pos pengeluaran ini adalah tentang charity, tentang kebaikan. Saya sering menyebut pengeluaran untuk pos pertama ini sebagai blessed spending. Anggarkanlah minimal 10% dari pendapatan bulanan Anda.

2.       20% adalah untuk tabungan, investasi, dan asuransi

Pos pengeluaran berikutnya adalah untuk tabungan dan investasi. Apabila Anda memiliki tujuan keuangan, maka bisa diwujudkan dengan cara menabung atau berinvestasi. Namun jika Anda belum memiliki dana darurat, maka sebaiknya fokuskan pos pengeluaran ini untuk membangun dana darurat terlebih dahulu ketimbang berinvestasi.

Pos ini juga merupakan bagian dari pendapatan yang digunakan untuk membayar premi asuransi Anda. Yang paling utama adalah miliki proteksi untuk kesehatan Anda sekeluarga, apabila ini sudah terpenuhi maka bisa dilanjutkan dengan memiliki asuransi jiwa untuk melindungi kehidupan keluarga apabila terjadi kondisi yang menyebabkan pencari nafkah utama tidak dapat bekerja.

3.       30% adalah untuk  cicilan utang

Berikutnya adalah pos untuk pengeluaran utang, jika ada. Untuk besarannya dianjurkan tidak lebih dari 30-35%. Lebih dari itu perlu dilihat lagi kondisi keuangannya secara menyeluruh. Secara umum, banyak lembaga keuangan yang mensyaratkan besar porsi cicilan utang adalah sebesar 30% dari pendapatan bulanan. Maka pastikan besaran anggaran pengeluaran bulanan Anda untuk membayar cicilan utang, dan di sini maksudnya adalah seluruh utang ya, artinya termasuk KPR, KTA, kartu kredit, dan segala jenis utang lainnya, kecuali utang budi, karena susah menilainya.

4.       40% adalah untuk kebutuhan rutin bulanan dari pendapatan

Sedangkan sisanya 40% adalah untuk kebutuhan rutin bulanan sehari-hari. Contohnya untuk belanja dapur, SPP anak, biaya transportasi, pulsa, air, listrik, rekreasi, dan lainnya. Pos pengeluaran untuk kebutuhan rutin ini ditempatkan pada bagian terakhir untuk memastikan bahwa Anda sudah menganggarkan dan kemudian mengeluarkan uang untuk pembayaran zakat, sedekah, menabung, serta untuk membayar utang.



Pola yang biasa dilakukan oleh keluarga Indonesia adalah terlebih dulu mengeluarkan uang untuk pos keempat ini di awal. Jadi biaya bulanan, seperti belanja dapur, rekreasi, pulsa dan lainnya dikeluarkan di awal, baru kemudian berpikir untuk, misalnya,  menabung serta membayar utang. Alhasil yang ada lebih sering tidak ada sisa lagi dari pendapatan untuk menabung atau membayar utang.

Metode 10 20 30 40 ini, sangat fleksibel, jadi misalkan tidak memiliki utang, maka Anda dapat mengalokasikan porsi 30% tersebut untuk kebutuhan lainnya. Demikian pula, apabila dana untuk tujuan keuangan sudah tercapai, maka porsi investasi dapat Anda alokasikan untuk pengeluaran lainnya. Selain metode 10 20 30 40, ada juga beberapa metode yang bisa menjadi alternatif untuk melakukan budgeting yaitu , 1/3 1/3 1/3, dan 20/30/50. Lain kali kita akan bahas metode-metode tersebut.

Monday, 12 December 2022

3 Hal Utama Penyebab Kesulitan Membayar Utang

Pernahkah Anda merasa kesulitan membayar cicilan utang? Entah itu utang kartu kredit, utang pinjaman online, KTA, KPR,  atau later-later yang sering diiklankan. Pada saat jatuh tempo, kok rasa-rasanya cepat sekali sudah datang waktu untuk membayar cicilan kembali. Atau saat jatuh tempo, uang di dompet sudah menipis, hanya cukup untuk kebutuhan pokok saja sampai gajian berikutnya, sementara cicilan masih ada yang harus dibayar. Bikin mumet saja.

Dana darurat untuk berjaga-jaga? Nggak punya juga… rasa-rasanya mau menabung saja susah… Tidak pernah ada sisa uang gaji di akhir bulan. Bikin pusing ya? Yuk, mari kita lihat penyebab umum yang sering mengakibatkan orang kesulitan membayar utang.



1.       Tidak Dapat Mengontrol Diri

Kok bisa self control dikaitkan dengan pembayaran tidak bisa membayar utang? Ini tidak lain disebabkan tali kendali yang lepas pada saat memutuskan untuk berutang. Dulu kala, orang berutang memang benar-benar uang untuk bertahan hidup. Uang sudah benar-benar ngga ada lagi di kantong, bekerja sana-sini tetap saja tidak cukup hasilnya. Sehingga opsi yang dipilih akhirnya berutang.

Namun di zaman now, untuk makan siang saja kita kadang berutang, untuk sekedar belanja online pun berutang, padahal uang di tabungan ada. Belum lagi untuk benda atau hal-hal lain yang tidak menjadi kebutuhan utama.



Banyak sekali momen terjadinya pergulatan panjang layaknya kisah perang Baratayuda antara Pandawa dan Kurawa. Cuma kali ini perangnya antara kebutuhan dan keinginan.  Jika memang Anda berutang karena kebutuhan, it’s fine. Tapi jika berutang karena menginginkan sesuatu, itu menjadi hal lain. Faktanya adalah sering kali tidak terjadi perang, alias tanpa terjadi perang, “keinginan” sudah terpilih sebagai pemenang. Jarang sekali kita berpikir 3 kali untuk suatu hal yang akan kita beli, layakkah dipenuhi dengan utang?

Contoh sederhana, mau beli gadget baru, sementara gadget lama masih layak pakai. Gadget baru akan dibeli karena lebih trendy, bagus, dan lain-lain. Harganya sekitar setengah gaji bulanan. Lihat saldo tabungan, tidak sampai setengah bulan gaji. Kartu kredit di dompet, ada. Aman… Bulan depan bayar tinggal bayar 10%, alhasil utang muncul. Gadget lama? Masuk laci, alasannya buat cadangan.

Keputusan-keputusan seperti contoh tersebut, seringkali diambil dengan cepat dan emosional tanpa melibatkan logika dan mempertimbangkan apakah termasuk kebutuhan atau keinginan. Jika perang antara kebutuhan dan keinginan sudah diputuskan pemenangnya, kita lanjut ke poin kedua.

2.       Tidak Melakukan Financial Check Up

Hal ini juga sering menjadi penyebab kesulitan seseorang membayar utang. Banyak sekali yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya dirinya tidak layak berutang. Arus kas keluarga masih defisit, kemudian rasio pembayaran utang sebelumnya sudah mencapai hingga 35% lebih. Sebagai contoh, melanjutkan dari gadget tadi, pada saat muncul saldo kartu kredit, karena jumlahnya separuh gaji bulanan sementara dana idle tidak sebesar itu, alhasil saldo utang kartu kredit tidak bisa dibayar lunas. Yang dibayar hanya 10% saja sesuai pembayaran minimum, pada  akhirnya muncul saldo utang, dan tentu… bunga.



Jika memang Anda menggunakan kartu kredit untuk memenuhi keinginan, sebaiknya pastikan Anda sudah memiliki tabungan yang cukup untuk membayar semua saldo. Sehingga fungsi kartu kredit hanyalah sebagai alat bantu transaksi. Kebiasaan membayar minimal pada kartu kredit akan membuat bunga menumpuk dan menjadi sangat lama untuk lunas.

3.       Tidak Mau Mengurangi Utang

Maksud poin ketiga ini adalah, jika seseorang telah mengetahui bahwa dirinya mengalami kesulitan dalam membayar utang, namun tidak mau berusaha untuk menanggulangi masalah tersebut. Salah satu cara adalah dengan melunasi seluruh atau sebagian pokok utang, atau mencoba melakukan refinancing, sehingga arus kas ke depan dapat menjadi lebih ringan.

Alih-alih melakukan hal tersebut, yang dilakukan adalah justru berutang ke tempat lain untuk membayar cicilan utangnya tersebut. Fenomena ini sering disebut Gali Lubang Tutup Lubang, seperti lagu Bang Haji Rhoma Irama. Membayar cicilan utang dengan utang lainnya. Padahal, aset di rumahnya cukup banyak yang dapat dijual untuk mengurangi pokok utang.

Misalnya mobil, motor, perhiasan, dan lainnya.  Menjual aset salah satu cara untuk mengurangi pokok utang, syukur-syukur bisa dengan berkurangnya pokok tersebut maka cicilan utang bulanan pun menurun. Atau penjualan aset bisa melunasi cicilan bulanan selama beberapa waktu, sehingga ada kesempatan untuk menabung atau mencari sumber penghasilan lain tanpa gangguan.

 

Semoga kita semua dilindungi dari kesulitan dalam melakukan pembayaran cicilan utang. Lebih enak lagi memang tidak memiliki utang. Bebas tanpa kewajiban pembayaran bulanan.. Namun jika memang harus berutang, pastikanlah bahwa memang kita harus utang sebagai sumber pendanaan untuk memenuhi kebutuhan. Pertimbangkan dengan kepala dingin sebelum memutuskan.



Tuesday, 6 December 2022

Siapkan 4 Hal Ini Untuk Menghadapi Resesi

Resesi… kata-kata ini begitu sering terlintas dalam lini masa kita, baik di media sosial maupun saat melakukan percakapan dengan teman, kolega, dan sahabat-sahabat. Ada yang kuatir dengan dampak resesi, ada juga yang cuek saja. Toh itu semua masih kemungkinan, begitu katanya. Kita tentu tidak mengharapkan resesi terjadi sehingga tidak akan membawa dampak buruk pada kehidupan. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai persiapan, sehingga kita tidak akan terlalu kaget apabila di kemudian hari resesi benar-benar terjadi.



1.    Jangan panik

Hal pertama yang harus dilakukan apabila terjadi resesi adalah stay calm. Tetap tenang dan jangan panik. Ini sangat penting untuk diingat, dan sebaiknya dilakukan. Jangan sampai gegabah dalam melakukan pengambilan keputusan, terutama keputusan keuangan yang signifikan, termasuk pada saat resesi belum terjadi. Kondisi keuangan mungkin saja terpengaruh saat terjadinya resesi, namun sebaiknya tidak perlu panik berlebihan.

Waspada, jelas perlu. Persiapan, sudah pasti harus dilakukan.

Jadi jangan sampai Anda malah sudah melakukan keputusan-keputusan keuangan yang belum tentu menguntungkan di saat ini, hanya karena panik akan resesi yang belum tentu terjadi nanti. Tetap tenang dan tetapkan segala hal penting dengan kepala dingin.

2.    Dana darurat

Siapkan dana cadangan atau darurat dalam jumlah yang cukup. Yang namanya dana darurat sebenarnya tidak berguna hanya pada saat resesi. Dana darurat juga akan berguna saat terjadi kondisi emergency di saat perekonomian berjalan normal. Kita tentu berharap kondisi tersebut tidak pernah kita harapkan terjadi, sehingga kita tidak akan pernah menggunakan dana darurat.



Ya, sebenarnya dana darurat hanya boleh digunakan pada saat kondisi darurat terjadi. Intinya, dana itu baru akan digunakan pada saat kondisi yang tidak enak, tidak nyaman. Misalnya, saat kondisi sakit sedangkan asuransi kantor tidak meng-cover jenis penanganan pengobatannya.

Contoh lain adalah kondisi kendaraan operasional utama sudah tua dan sering sakit-sakitan sehingga dibutuhkan kendaraan yang lebih layak dengan segera. Dan contoh saat ini yang sedang marak terjadi, bahkan di media-media disebut sebagai “badai”, adalah saat di-PHK.

Jumlah dana darurat yang minimal dimiliki adalah sebesar 3 bulan pengeluaran, namun pada saat pandemi dan kondisi yang VUCA seperti sekarang, jumlahnya boleh dinaikkan hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Siapa yang menyangka di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca pandemi, ternyata PHK marak terjadi dan sulit mendapat lapangan pekerjaan baru. Bisa jadi dibutuhkan waktu hingga 12 bulan untuk mencari pekerjaan utama pengganti, sehingga di sinilah dana darurat berperan untuk menggantikan penghasilan utama yang hilang..

3.    Mencari sumber pendapatan lain

Resesi adalah saat-saat yang penuh dengan ketidakpastian. Jika kita sudah melakukan Langkah-langkah yang sebelumnya telah dijelaskan, tidak panik, lalu tetap menjaga kewaspadaan, dana darurat pun juga telah disiapkan dengan jumlah yang cukup, tetap saja kondisi ketidakpastian menyelimuti perekonomian. Apabila kita adalah seorang pemilik usaha, maka fluktuasi omset menjadi hal yang dikuatirkan. Apabila kita adalah seorang karyawan, maka badai PHK juga mungkin saja terjadi di perusahaan yang kita cintai.

Adanya pendapatan lain di luar pendapatan utama saat ini bisa menjadi jalan keluar apabila kita benar benar terkena PHK, atau sumber penghasilan utama terpengaruh oleh resesi, missal terjadi pengurangan gaji. Jagalah hubungan dengan orang-orang terdekat kita, apabila ada peluang dari network untuk menambah penghasilan, tidak ada salahnya mencoba peluang tersebut. Manfaatkan skill serta sumber daya yang kita miliki, lalu lakukan eksploitasi agar kemampuan yang kita miliki bisa manambah penghasilan.

4.    Tetap lakukan konsumsi

Sebagian besar perekonomian Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi. Sehingga apabila masyarakat menghentikan konsumsi secara serentak di kala resesi, justru akan semakin memperparah dampaknya. Kita bisa melihat contoh pada saat pandemi. Di saat PPKM atau lock down diterapkan secara masif, maka banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan work from home. Pergerakan manusia di luar rumah pun menurun drastis. Dampaknya antara lain, penurunan beberapa sektor industri, seperti pariwisata, transportasi, serta di sektor informal yang sangat besar jumlahnya di Indonesia.



Usaha makanan minuman informal seperti warteg, warungkaki lima, gerobak dorong, starling, pedagang keliling, yang biasanya ramai berusaha di sepanjang hari, banyak sekali yang terpaksa tidak dapat berjualan. Itu hanya sebagian contoh saja. Memang sebagian sektor industri lain meningkat di kala pandemi, seperti sektor kesehatan dan jasa ekspedisi. Namun lebih banyak yang terpengaruh negatif akibat berhentinya konsumsi masyarakat. Apabila resesi terjadi, maka konsumsi sebaiknya tidak diturunkan secara drastis.

Penyesuaian dengan kondisi saat resesi memang mutlak diperlukan, namun jangan sampai berhenti total. Banyak saudara-saudara kita yang bergantung kehidupannya dari sektor yang mengandalkan konsumsi masyarakat.

Resesi memang masih berpotensi terjadi di Indonesia, dan hal tersebut di luar kontrol kita karena banyak sekali faktor yang menyebabkan dunia dilanda badai resesi. Apakah akan ada resesi atau tidak, sepatutnya kita tetap mengusahakan persiapan yang terbaik, kemudian berdoa agar kita tetap diberikan kekuatan untuk menghadapi resesi apabila benar benar terjadi.



Monday, 5 December 2022

3 Syarat Instrumen Keuangan Penempatan Dana Darurat

Beberapa waktu lalu, GoTo melakukan PHK pada sekitar 1300-an orang karyawannya. Disusul kemudian Ruang Guru juga melakukan PHK ratusan karyawannya. Total ada sekitar 18 perusahaan di Indonesia yang diterjang badai PHK seperti dilansir Detikcom. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah ini dampak awal dari resesi yang belakangan sering diperbincangkan? 

Salah satu alasan dari Goto dan Ruang guru melakukan “perampingan” ini adalah karena dampak dari kondisi perekonomian global. Saya berdoa semoga teman-teman dan saudara kita yang di-PHK diberikan kesabaran dan kemudahan dalam meneruskan karirnya, di bidang apapun kompetensi mereka.

 

Kali ini kita tidak akan membahas mengenai resesi atau perekonomian global. Bahasan kita kali ini adalah mengenai dana darurat, yang menurut saya akan sangat berguna bagi kita semua dalam melakukan perencanaan Keuangan. Anda pasti sudah sering mendengar istilah dana darurat dalam perencanaan keuangan bukan? Sesuai dengan namanya, maka dana darurat adalah dana yang akan digunakan pada saat keadaan darurat, dan salah satu contoh yang sering digunakan adalah apabila seseorang terkena PHK. Besar jumlah dana darurat yang disarankan minimal sebesar 3 bulan pengeluaran. Rentang atasnya bisa sampai sebesar 12 bulan pengeluaran. 

Pada kondisi pandemi, beberapa perencana keuangan bahkan menyarankan untuk menambahkan jumlah tersebut hingga 24 bulan pengeluaran. Mengapa demikian? Tak lain tak bukan karena kondisi ketidakpastian yang masih rawan terjadi. Pandemi diprediksikan berakhir beberapa tahun lagi, ada yang mengatakan tahun 2025. Kondisi geopolitik dunia pun juga dinamis, seperti perang Rusia-Ukraina, hubungan antara China-Taiwan yang kadang memanas, maka persiapan terbaik layak dilakukan. Namun mengumpulkan dana darurat sebanyak 3 bulan pengeluaran saja sepertinya sudah menjadi suatu tantangan tersendiri, apalagi 24 bulan! 

 “Mana bisa bro, boro-boro 3 bulan dana darurat, buat makan seminggu ke depan aja masih pusing! Belum cicilan utang yang menjulang!”. 

 Godaan jaman now memang banyak sekali, tawaran diskon ini, diskon itu, cicilan later ini, cicilan later itu, mau healing ke sana, healing ke sini. Diskon 1.1, 2.2, 3.3 sampe 12.12 selalu dinantikan tiap bulan. Dan itu semua hadir di dalam genggaman kita! Nggak laki nggak perempuan, sama saja. Kalau sudah pegang ponsel, lalu membuka aplikasi marketlace, pilih barang, masukin keranjang, lalu pakai later atau kartu kredit, 2 hari kemudian datang deh barangnya.

 

Jadi, apabila kita kembali ke dana darurat, dari jumlah 3 bulan tadi yang minimal dikumpulkan sebagai dana darurat, maka dana tersebut harus ditempatkan di lokasi yang terpisah dengan lokasi dana operasional sehari-hari. Misal dana darurat ditempatkan di rekening bank, maka rekening bank dana darurat tidak boleh bercampur dengan rekening operasional sehari-hari. Oh iya, saya bukan orang bank ya, nanti dikira saya agen marketing bank sehingga Anda harus buka rekening baru dengan biaya administrasi tambahan tiap bulannya. 

Ada 3 kriteria penempatan dana darurat, dan sekaligus nanti akan kita lihat contoh instrumen yang cocok dengan kriteria tersebut. 
1. Aman 
Yang pertama, dana darurat harus ditempatkan di instrumen yang aman. Sebagai contoh, rekening tabungan di bank. Tingkat keamanan bank sudah sangat baik. Sebisa mungkin bukalah rekening di bank yang mengikuti program LPS. Reksadana pasar uang juga cukup aman karena terdaftar dalam sistem Kustodian Sentral Efek Indonesia. Cara membelinya pun sangat mudah, bisa melalui aplikasi dalam gadget kita. 

Kemudian logam mulia, seperti emas atau perak. Dari sisi nilai, logam mulia menunjukan tren peningkatan dalam jangka panjang, namun berfluktuasi dalam jangka pendek. Maka Anda harus perhatikan jumlah dana darurat yang ditempatkan di logam mulia, jangan semuanya dalam bentuk logam mulia. Dari risiko kehilangan, logam mulia berpotensi hilang dicuri. Maka tempatkan di tempat yang aman seperti safe deposit box atau brankas di rumah. 

Syarat keamanan lainnya termasuk keamanan dari ancaman penurunan nilai. Nah ini agak tricky untuk rekening tabungan. Dari sisi keamanan fisiknya, tabungan di bank dapat dikatakan sangat aman. Tapi dari sisi penurunan nilai, uang berpotensi turun nilainya akibat inflasi. Karena dari sisi keamanan fisik rekening tabungan memiliki keunggulan, maka tempatkan dengan jumlah yang optimal.

Logam mulia unggul di keamanan nilai, namun dari sisi keamanan fisik, perlu tempat penyimpanan yang mungkin membutuhkan biaya tambahan. Reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan lain karena secara nilai bisa naik dan dari sisi keamanan bisa diandalkan. Jadi pertimbangkanlah proporsi yang optimal untuk masing-masing instrumen.

 

2. Likuid 
Likuid, artinya cair, dalam arti mudah dicairkan atau dikonversi menjadi uang tunai apabila bentuknya bukan uang tunai. Jika instrumennya berupa rekening tabungan, maka untuk menjadikannya uang tunai, cukup diambil di ATM. Bisa juga digunakan untuk keadaan darurat secara digital atau melalui transfer. Jika bentuknya logam mulia, maka perlu dijual dulu atau dengan ditukar. 

Salah satu kelebihan logam mulia adalah sifatnya yang universal diterima di seluruh dunia. Sedangkan reksadana pasar uang perlu beberapa hari kerja untuk redemption hingga dana masuk ke rekening, namun ini dianggap masih cukup likuid. 

3. Mudah diakses 
Instrumen penempatan dana darurat juga harus mudah diakses. Artinya mudah Anda jangkau dan akses untuk digunakan. Jika dana darurat ditempatkan di rekening tabungan, maka ada mobile banking, ada ATM yang tersedia di banyak lokasi. Logam mulia, Anda cukup mengambil emas atau peraknya, kemudian menjualnya ke toko atau ke teman. 

Perlu dipertimbangkan jika logam mulia disimpan di SDB, apakah lokasi SDB mudah dijangkau dan selalu buka setiap hari. Bayangkan Anda perlu dana darurat dalam 3 jam ke depan, sementara sekarang adalah hari Minggu pagi dimana kantor SDB baru buka Senin, alhasil logam mulia baru bisa diambil besok.

Mengakses reksadana pasar uang cukup melalui jempol di gadget dan tunggu beberapa hari baru cair. Coba bayangkan Anda menempatkan dana darurat di properti, sudah mencari pembelinya susah, kesepakatan harga juga tidak mudah dicapai, perlu prosedur ke notaris kemudian baru dana darurat dapat diakses. 


emikianlah 3 kriteria utama untuk penempatan dana darurat yang bisa Anda terapkan. Sekarang, waktunya Anda menyiapkan dana darurat tersebut dengan menggunakan perencanaan Keuangan pribadi agar Anda siap menghadapi berbagai kemungkinan kondisi darurat!