Bukan saran keuangan.
Hanya sebuah blog tentang Perencanaan Keuangan Pribadi berisi tulisan-tulisan dari Mentor Keuangan.
Semoga bermanfaat dan menginspirasi.
Belakangan
ini, tingkat penularan Covid 19 kembali meningkat. Detikcom hari Minggu, 10 Desember 2023 memuat
artikel berjudul "Kasus COVID-19 'Ngegas' Lagi, Warga +62 Diminta Segera Vaksin Booster".
Kita tidak
akan membahas detil artikel tersebut, apalagi vaksinnya. Namun yang kita pahami
adalah terjadi kenaikan kasus Covid 19 yang signifikan. Hal ini tentu cukup
mengkuatirkan kita semua. Karena banyak sekali perubahan yang terjadi dalam
kehidupan kita akibat terjadinya pandemi Covid 19 di Indonesia, yang dimulai
tahun 2020 dan dan baru saja berakhir di awal 2023 yang ditandai dengan
pencabutan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat)
Salah satu
hal yang banyak terjadi selama pandemic
Covid yang lalu adalah kasus Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK di berbagai
Perusahaan. Banyak sekali karyawan yang di-PHK atau dirumahkan. Kejadian ini
tentu mengagetkan para karyawan tersebut karena sangat mendadak dan di tengah
ketidaksiapan keuangan, terutama tidak dimilikinya dana darurat.
Dana
darurat memang berfungsi untuk digunakan pada saat kondisi darurat yang salah
satunya adalah terjadinya PHK. Pada seminar-seminar saya sebelum Covid 19, saya
banyak memberikan contoh kondisi darurat seperti kendaraan operasional yang
rusak parah, rumah yang perlu segera direnovasi, atau terjadi musibah. Untuk
kondisi PHK, saya tidak terlalu sering
memberikan sebagai contoh, karena dalam bayangan saya, siapa sih yang mau
di-PHK? PHK mungkin terjadi apabila karyawannya bermasalah, atau terjadi
rasionalisasi. Namun kalau rasionalisasi biasanya ada tawaran Goldeh Hand
Shake, sehingga secara keuangan masih dapat terbantu.
Namun
pandemic Covid 19 menyadarkan saya, bahwa walaupun kita berkinerja baik, PHK
tetap saja bisa terjadi. Dan tidak pakai embel-embel GHS lagi, karena
Perusahaan memang sudah tidak mampu membayar gaji karyawan, alias perusahaannya
bangkrut. Bahkan untuk Anda yang saat ini bekerja di Perusahaan yang mapan pun,
sebaiknya tetap mempersiapkan dana darurat, karena era ini adalah era yang
penuh disruption event.
Jadi
teman-teman, bagaimana cara menyiapkan dana darurat, saya akan rangkum dalam dalam pantun
Siapkanlah
dana darurat,
Agar
keuangan Anda tidak makin gawat
Siapkan
dengan cepat dan tepat
Karena
kita tidak tahu apa yang akan segera mendekat
Siapkan
dana darurat di tempat yang mudah diakses sehingga bisa segera dipakai
Sebagai seorang penggembira golf dan juga seorang perencana keuangan, saya mencoba membandingkan kedua hal ini, karena menurut saya banyak hal yang menjadi persamaan antara golf dan perencanaan keuangan.
1. Persiapan
Untuk bermain golf di pagi hari, kita sudah mempersiapkan peralatan golf paling lambat malam sebelumnya. Akan sangat merepotkan jika pada pagi buta kita baru mempersiapkan perlengkapan bermain golf. Bukan tidak mungkin ada perlengkapan yang tertinggal akibat terburu-buru berangkat.
Demikian pula dengan perencanaan keuangan, maka yang disiapkan adalah data. Sebelum mulai membuat perencanaan keuangan, Anda akan ditanya oleh perencana keuangan mengenai aset, hutang, asuransi, dan investasi. Data-data Ini harus disiapkan sebelum memulai perencanaan keuangan. Tanpa data yang cukup dan akurat perencanaan keuangan yang dibuat juga akan tidak baik hasilnya.
2. Evaluasi
Dalam permainan golf, setelah kita selesai memukul, kita akan melihat seberapa jauh pukulan kita dan apakah arahnya tepat. Lokasi bola juga kita lihat, apakah di fairway atau bunker. Dari situ kita menentukan arah pukulan selanjutnya dan juga menggunakan club nomor berapa. Artinya kita melakukan evaluasi setiap selesai melakukan pukulan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
Dalam perencanaan keuangan, evaluasi dilakukan secara berkala antara 6 bulan hingga setahun sekali. Bisa juga apabila ada kejadian signifikan, seperti kelahiran anak atau kenaikan gaji. Evaluasi situasi dan kondisi keuangan ini akan menentukan arah dan tindakan keuangan selanjutnya, apakah perlu menambah investasi, mengurangi pengeluaran, atau sudah boleh berhutang lebih besar.
3. Perbedaan Kemampuan
Dalam permainan golf, tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Semua orang memiliki handicap masing-masing. Kemampuan yang berbeda ini menyebabkan saat 2 orang melakukan tee shot dengan driver yang jenisnya sama, maka hasil jarak dan arah pukulannya akan berbeda. Golfer yang memiliki swing speed rendah akan memilih jenis shaft yang berbeda dengan golfer dengan swing speed tinggi.
Dalam perencanaan keuangan, semua memiliki situasi dan kondisi yang berbeda juga. Jumlah gaji beda, pengeluaran beda. Aset yang telah dimiliki berbeda. Sehingga tidak semua strategi perencanaan keuangan yang sama bisa menghasilkan output yang sama pula untuk semua orang. Perencaan keuangan akan menyesuaikan dengan kondisi serta kemampuan masing-masing orang.
4. Disiplin
Baik golf maupun perencanaan keuangan sama-sama membutuhkan kedisiplinan. Contohnya adalah dalam soal latihan. Apabila tidak sering berlatih golf, tentu akan berpengaruh kepada performa permainan. Paling tidak seminggu sekali pergi ke driving range. Sedangkan dalam perencanaan keuangan, bentuk kedisiplinannya adalah selalu mengalokasikan dana di awal gajian sehingga tidak digunaan untuk keperluan lain. Untuk menjaga kedisiplinan ini bisa menggunakan mekanisme auto debet rekening tabungan.
5. Target
Target pun sudah disusun melalui jumlah pukulan par. Kalau melebihi target maka ganjarannya birdie, eagle atau albatross. Sedangkan jika tidak memenuhi target maka bisa dapat bogey, double bogey, bahkan double par!
Dalam perencanaan keuangan, tujuan keuangan menjadi target kita, berapa jumlah uang yang harus terkumpul, serta kapan uang tersebut akan digunakan.
6. Mengatasi Rintangan
Dalam golf diperlukan konsistensi untuk menghadapi rintangan serta kekuatan fisik yang prima agar dapat terus bermain sepanjang 18 hole. Halangan alam seperti cuaca panas, hujan, serta kolam dan sungai harus mampu diatasi. Halangan buatan seperti lapangan yang dogleg dan bunker juga menjadi tantangan bagi golfer. Dalam perencanaan keuangan ada saja kondisi darurat yang terjadi sehingga mengganggu kondisi keuangan. Diperlukan kreativitas agar Anda dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi sembari tetap mengatur dan merencanakan keuangan agar tetap pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan keuangan.
7. Kesabaran
Bermain golf ibarat melawan diri kita sendiri. Kondisi emosi yang stabil akan mendukung permainan kita. Namun apabila kita memukul dengan ngotot dan penuh emosi, dijamin pukulan akan hancur. Maka dari itu dibutuhkan kesabaran dan ketenangan dalam bermain golf. Dalam perencanaan keuangan, kesabaran menantikan berbuahnya hasil investasi juga sangat diperlukan. Tidak ada ceritanya investasi berbuah manis dalam waktu singkat. Ketenangan dan kestabilan emosi dalam mengambil keputusan investasi sangat diperlukan.
Bagaimana pembaca? Apakah masih ada hal-hal lain yang menjadi persamaan antara olahraga golf dan perencanaan keuangan? Selamat bermain golf dan merencanakan keuangan!
Belum lama ini, seorang rekan saya baru saja berkonsultasi perihal perencanaan
keuangan pribadinya. Rekan saya tersebut, sebut saja Ardan, adalah seorang pria
berusia 38 tahun, bekerja sebagai karyawan BUMN. Ardan memiliki seorang istri
yang berusia 35 tahun. Istrinya pun juga bekerja sebagai karyawan swasta. Mereka
sudah menikah selama 10 tahun dan memiliki 3 orang anak.
Pada awalnya Ardan bertanya kepada saya perihal investasi di pasar
modal, yaitu saham. Ardan tertarik untuk berinvestasi di saham karena dia ingin
uangnya bertambah banyak. Maka Ardan pun
bertanya kepada saya saham apa yang bagus, kapan waktu membeli yang tepat, dan
lain sebagainya. Apalagi dia telah mendengar masukan dari rekannya yang sudah
berkecimpung di dunia saham, bahwa saat ini adalah saat yang tepat karena
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang dalam fase bullish.
Setelah saya jelaskan panjang lebar mengenai saham, bagaimana cara
memilih saham, bagaimana caranya melakukan analisa saham secara teknikal dan
fundamental, kemudian saya bertanya balik kepada Ardan, kapan Ardan akan menghubungi
perusahaan sekuritas untuk mulai berinvestasi di saham? Jawaban dari Ardan
adalah ketika dia punya uang sisa.
Jawaban ini cukup mengejutkan bagi saya, karena dalam pandangan
saya, Ardan yang bekerja di sebuah BUMN ini seharusnya memiliki
pendapatan yang boleh dibilang sudah cukup besar. Apalagi ditunjang dengan istrinya
yang juga memiliki penghasilan. Namunkenyataannya
untuk melakukan investasi pun ternyata Ardan tidak memiliki uang.
Padahal sebelumnya saya sudah menjelaskan bahwa untuk melakukan
investasi di instrumen saham, maka jumlah dana awal yang dibutuhkan tidaklah
besar. Cukup membuka rekening investasi di perusahaan sekuritas, dan kemudian
mengisi rekening investasi tersebut dengan danainvestasi kita. Berapa jumlahnya? Ya terserah kita, apabila kita ingin
membeli saham sebuah perusahaan yang per lembar sahamnya seharga Rp500, maka
tentu kita harus menyediakan uang dalam rekening investasi sebesar Rp50.000
untuk membeli saham perusahaan tersebut sebanyak 1 lot. Karena peraturan di
Bursa Efek Indonesia mengharuskan nasabah membeli moinimal sejumlah 1 lot,
yaitu 100 lembar. Artinya Rp500 per lembar dikalikan 100 lembar sama dengan
Rp50.000.
Nah, saya kemudian berpikir, jika untuk membeli saham senilai
Rp50.000 saja Ardan masih enggan menyediakan dananya, apalagi untuk mencapai
tujuan keuangannya ya? Ardan beralasan karena masih mencicil rumah. Selain itu biaya sekolah ketiga anaknya
cukup besar. Belum lagi les-les yang diikuti anaknya. Ardan juga mengeluhkan
anak-anaknya yang selalu meminta dibelikan mainan setiap kali mereka pergi ke
mal. Belum lagi untuk makan siangsekeluarga saat di mal tersebut. Semua hal tersebut menguras gajinya.
Untung saja istrinya juga bekerja sehingga cicilan rumah masih dapat dibayar
tepat waktu. Apakah Anda juga memiliki kondisi yang sama dengan Ardan sekarang
ini? Sulit berinvstasi? Jika iya, simak artikel berikut ini untuk mencari
solusinya.
Untuk melakukan investasi tentu diperlukan modal, atau dana untuk
berinvestasi. Baik itu di instrumen saham maupun instrumen lainnya, seperti
obligasi, properti, dan bisnis. Nah, bagaimana jika kasusnya kita sudah kehabisan
uang untuk berinvestasi karena uangnya sudah kita gunakan untuk keperluan yang
lain, belanja, SPP anak, tansportasi, pembayaran utang dan keperluan penting
lain.
Salah satu solusinya adalah dengan mengeluarkan dana investasi kita
tersebut di awal. Jadi tidak ada lagi cerita kita kehabisan dana untuk
berinvestasi, karena kita telah melakukan investasi tersebut di awal setelah
kita menerima penghasilan. Dalam hal ini kita harus melakukan seleksi
prioritas, mana yang menjadi pos pengeluaran terpenting yang harus didahulukan
terlebih dulu.
Mari kita coba bahas satu-persatu jenis pengeluaran kita dan
tentukan ada di kelompok mana pengeluaran untuk investasi. Lho, Anda mungkin
bertanya-tanya, kan ini saya mau investasi, kok malah jadi pengeluaran? Tenang pembaca,
jadi jika di artikel ini dikatakan pengeluaran, maka artinya uang yang kita
keluarkan dari penghasilan kita. Coba Anda pikir, untuk investasi tentu
menggunakan uang bukan? Artinya kita mengeluarkan uang dari kantong kita untuk
masuk ke instrumen investasi.
Meskipun rekening investasi tersebut masih atas
nama kita, tapi sebaiknya kita tidak menggabungkan rekening investasi tersebut
dengan rekening utama atau rekening belanja kita. Hal ini kelak akan berguna untuk
memonitor berapa saldo investasi kita sekarang. Itulah mengapa kita harus mengelompokkan
investasi sebagai salah satu pos pengeluaran.
Nah, apa saja jenis pengeluaran kita? Saya mencoba mengelompokkan
pos-pos pengeluaran ke dalam lima kelompok utama. Sebenarnya sih bebas saja ya, mau dijadikan satu
atau empat kelompok pun juga bisa, yang penting Anda bisa membedakan secara
jelas peruntukannya. Kelompok pertama adalah pengeluaran sosial. Pengeluaran
ini meliputi pengeluaran kita yang terkait amal dan hal-hal sosial lainnya.
Contohnya adalah pengeluaran untuk zakat, sedekah, perpuluhan, dan sumbangan.
Anda juga bisa memasukkan angpao pernikahan dalam kelompok pengeluaran ini.
Kelompok pengeluaran kedua adalah pembayaran kewajiban. Apa itu
kewajiban? Yaitu utang. Anda mungkin memiliki utang kartu kredit? Utang kredit
pemilikan rumah? Utang kepemilikan kendaraan bermotor? Atau jenis utang-utang
lainnya, seperti utang kredit panci mungkin? Memangnya masih ada ya kredit
panci? Mungkin saja, lha wong harga
panci sekarang bisa jutaan rupiah dan Anda membelinya menggunakan cicilan kartu
kredit selama 6 bulan, hehehe… Maka untuk jenis pengeluaran untuk pembayaran
kewajiban ini Anda masukkan ke dalam kelompok pengeluaran kedua.
Kelompk pengeluaran ketiga adalah pengeluaran untuk proteksi. Pengeluaran untuk proteksi adalah asuransi dan
juga tabungan untuk dana darurat. Pembayaran premi asuransi jiwa Anda, kemudian
juga pembayaran premi asuransi kesehatan Anda. Prinsip dari asuransi adalah
proteksi, yaitu untuk perlindungan. Asuransi jiwa adalah proteksi untuk
keluarga dan ahli waris yang ditinggalkan. Coba bayangkan apabila besok Anda
meninggal dunia. Kira-kira anak istri Anda akan bisa bertahan hidup dengan cara
apa? Apakah istri Anda akan mulai bekerja? Atau mungkin anak-anak Anda harus keluar dari sekolah dan bekerja untuk
menyambung hidup? Coba Anda renungkan.
Kemudian untuk asuransi kesehatan, jika ada salah satu anggota
keluarga sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang cukup besar, apakah Anda
mampu membayar biaya pengobatannya? Apakah Anda sudah ikut BPJS Kesehatan? Belum?
Apakah Anda dapat membayarnya dengan uang dari tabungan dana darurat? Maka
itulah pentingnya Anda menyiapkan tabungan dana darurat.
Kelompok pengeluaran keempat adalah pengeluaran investasi.
Pengeluaran investasi ini Anda lakukan untuk memenuhi tujuan keuangan Anda.
misalkan Anda memiliki tujuan memiliki sebuah rumah dengan harga 1 milyar
rupiah 5 tahun lagi. Anda berencana membeli rumah tersebut dengan menggunakan
KPR, sehingga Anda sudah tahu pada tahun kelima harus menyiapkan dana uang muka
sebesar 200 juta Rupiah.
Dan kelompok pengeluaran yang terakhir atau pengeluaran kelima adalah
pengeluaran untuk keperluan rutin sehari-hari. Contohnya belanja bulanan
sehari-hari, uang SPP anak. Contoh lainnya pembayaran listrik, air, biaya
transportasi atau pembelian bahan bakar minyak kendaraan Anda. biaya pulsa
ponsel Anda juga sepertinya pasti menjadi biaya rutin bulanan Anda.
Jadi, agar investasi mendapatkan porsi yang sesuai dengan kebutuhan
pemenuhan tujuan keuangan kita, maka pengeluaran investasi haruslah dianggarkan
dalam pos pengeluaran bulanan kita. Berapa jumlahnya? Anda harus
menyesuaikannya dengan target pencapaian jumlah investasi Anda. Gunakanlah
instrumen investasi yang menurut Anda paling tepat untuk mencapai jumlah target
yang telah Anda tetapkan. Jangan lupa tentukan asumsi tingkat perkembangan
investasi Anda.
Apabila Anda telah melakukan hal tersebut, maka langkah selanjutnya
adalah mengeluarkan dana investasi Anda dengan segera setelah Anda menerima
pendapatan. Jadi tidak akan ada lagi cerita bahwa Anda tidak dapat berinvestasi
karena uang Anda sudah habis. Uang gaji Anda mungkin habis, tapi habisnya
karena Anda sudah menginvestasikan uang gaji Anda sesuai dengan porsinya
masing-masing.
Nah, Anda mungkin berkilah lagi, “saya kan masih punya utang, dan
pembayaran utang saya saat ini besar sekali porsinya, 40% dari gaji, gimana
lagi caranya mau investasi”. Itu artinya rasio pembayaran utang Anda terlalu
besar. Lembaga keuangan saja umumnya mensyaratkan jumlah cicilan utang per
bulan berkisar antara 30-35% pendapatan bulanan. Jika kondisinya demikian, maka
tentu pembayaran utang lebih menjadi prioritas dibandingkan berinvestasi. Kalau
Anda tidak bayar utang, nanti didatengin debt
collector, mau?
Lha kalau tidak berinvestasi, nanti tidak dapat mencapai
tujuan keuangan? So.. segera lunasi utang Anda terlebih dulu, barulah
berinvestasi. Paling tidak kejarlah rasio pembayaran utang Anda hingga menjadi
30%, sehingga yang 10% sebelumnya Anda gunakan untuk membayar utang, dapat Anda
konversi menjadi dana untuk berinvestasi.
Maka, berinvestasilah dengan baik dan sesuai prioritas. Apabila saat
ini Anda masih kesulitan dalam mengatur cash
flow bulanan, sering kekurangan untuk belanja rutin sehari-hari, hal
tesebut akan menyulitkan Anda berinvestasi. Benahi terlebih dulu masalah
keuangan yang menjadi prioritas kemudian barulah investasi bisa mendapat
porsinya. Mudah-mudahan permasalahan keuangan Anda dapat cepat terselesaikan,
sehingga Anda dapat segera memulai berinvestasi untuk mencapai tujuan keuangan
Anda.
Salah satu pertanyaan populer
yang sering sekali ditanyakan kepada saya adalah bagaimana cara mengatur pola
keuangan keluarga. Berapa persen yang harus ditabung, berapa persen yang harus
diinvestasikan, dan berapa yang boleh digunakan untuk healing.
Macam-macam memang kebutuhan manusia, tidak ada jawaban yang sama untuk semua
orang. Semua memiliki kebutuhan yang berbeda. Kalaupun ada yang memiliki
kebutuhan yang sama, terkadang kondisi keuangannya berbeda.
Satu hal yang sama dan pasti
adalah, Anda pasti akan menggunakan uang tesebut. Lha, kan uangnya ditabung,
mas. Tidak digunakan. Nah disini kita bicara mengenai pos-pos penggunaan
pendapatan. Termasuk tabungan. Jadi mindsetnya adalah, walaupun untuk tabungan
atau investasi, tetap itu dianggap sebagai penggunaan, atau mungkin bisa juga
deh digunakan istilah pengeluaran, suka-suka Anda aja. Istilah kerennya untuk
tulisan ini adalah, budgeting.
Ada satu metode yang sangat umum
dgunakan untuk melakukan budgeting, yaitu metode 10 20 30 40. Metode ini
membagi pendapatan ke dalam 4 bagian utama, dengan porsi masing-masing sebesar 10%,
20%, 30% dan 40%.
1.10% adalah untuk kepentingan agama dan sosial
Contoh dari pengeluarannya adalah zakat, sedekah,
perpuluhan, sumbangan, angpao pernikahan, dan pengeluaran lain yang sejenis. Bagian
ini ditempatkan pertama kali di depan tidak lain tidak bukan karena memang ini
adalah pos pengeluaran yang paling penting, karena dampaknya sangat signifikan (nantinya).
Ya, Anda mungkin menganggap sedekah, misalnya, tidak memberikan dampak apapun
saat ini, namun itu sebenarnya bisa menjadi tabungan untuk di akhirat nanti.
Inti dari pos pengeluaran ini adalah tentang charity,
tentang kebaikan. Saya sering menyebut pengeluaran untuk pos pertama ini sebagai
blessed spending. Anggarkanlah minimal 10% dari pendapatan bulanan Anda.
2.20% adalah untuk tabungan, investasi, dan
asuransi
Pos pengeluaran berikutnya adalah untuk tabungan dan
investasi. Apabila Anda memiliki tujuan keuangan, maka bisa diwujudkan dengan cara
menabung atau berinvestasi. Namun jika Anda belum memiliki dana darurat, maka sebaiknya
fokuskan pos pengeluaran ini untuk membangun dana darurat terlebih dahulu
ketimbang berinvestasi.
Pos ini juga merupakan bagian dari pendapatan yang
digunakan untuk membayar premi asuransi Anda. Yang paling utama adalah miliki
proteksi untuk kesehatan Anda sekeluarga, apabila ini sudah terpenuhi maka bisa
dilanjutkan dengan memiliki asuransi jiwa untuk melindungi kehidupan keluarga
apabila terjadi kondisi yang menyebabkan pencari nafkah utama tidak dapat bekerja.
3.30% adalah untukcicilan utang
Berikutnya adalah pos untuk pengeluaran utang, jika
ada. Untuk besarannya dianjurkan tidak lebih dari 30-35%. Lebih dari itu perlu
dilihat lagi kondisi keuangannya secara menyeluruh. Secara umum, banyak lembaga
keuangan yang mensyaratkan besar porsi cicilan utang adalah sebesar 30% dari
pendapatan bulanan. Maka pastikan besaran anggaran pengeluaran bulanan Anda
untuk membayar cicilan utang, dan di sini maksudnya adalah seluruh utang ya,
artinya termasuk KPR, KTA, kartu kredit, dan segala jenis utang lainnya,
kecuali utang budi, karena susah menilainya.
4.40% adalah untuk kebutuhan rutin bulanan dari
pendapatan
Sedangkan sisanya 40% adalah untuk kebutuhan rutin
bulanan sehari-hari. Contohnya untuk belanja dapur, SPP anak, biaya
transportasi, pulsa, air, listrik, rekreasi, dan lainnya. Pos pengeluaran untuk
kebutuhan rutin ini ditempatkan pada bagian terakhir untuk memastikan bahwa
Anda sudah menganggarkan dan kemudian mengeluarkan uang untuk pembayaran zakat,
sedekah, menabung, serta untuk membayar utang.
Pola yang biasa dilakukan oleh keluarga Indonesia adalah terlebih
dulu mengeluarkan uang untuk pos keempat ini di awal. Jadi biaya bulanan,
seperti belanja dapur, rekreasi, pulsa dan lainnya dikeluarkan di awal, baru
kemudian berpikir untuk, misalnya, menabung serta membayar utang. Alhasil yang
ada lebih sering tidak ada sisa lagi dari pendapatan untuk menabung atau
membayar utang.
Metode 10 20 30 40 ini, sangat
fleksibel, jadi misalkan tidak memiliki utang, maka Anda dapat mengalokasikan
porsi 30% tersebut untuk kebutuhan lainnya. Demikian pula, apabila dana untuk
tujuan keuangan sudah tercapai, maka porsi investasi dapat Anda alokasikan
untuk pengeluaran lainnya. Selain metode 10 20 30 40, ada juga beberapa metode
yang bisa menjadi alternatif untuk melakukan budgeting yaitu , 1/3 1/3
1/3, dan 20/30/50. Lain kali kita akan bahas metode-metode tersebut.
Pernahkah Anda merasa kesulitan membayar cicilan
utang? Entah itu utang kartu kredit, utang pinjaman online, KTA, KPR, atau later-later yang sering diiklankan.
Pada saat jatuh tempo, kok rasa-rasanya cepat sekali sudah datang waktu untuk
membayar cicilan kembali. Atau saat jatuh tempo, uang di dompet sudah menipis, hanya
cukup untuk kebutuhan pokok saja sampai gajian berikutnya, sementara cicilan
masih ada yang harus dibayar. Bikin mumet saja.
Dana darurat untuk berjaga-jaga? Nggak punya
juga… rasa-rasanya mau menabung saja susah… Tidak pernah ada sisa uang gaji di
akhir bulan. Bikin pusing ya? Yuk, mari kita lihat penyebab umum yang sering mengakibatkan
orang kesulitan membayar utang.
1.Tidak Dapat Mengontrol Diri
Kok
bisa self control dikaitkan dengan pembayaran tidak bisa membayar utang?
Ini tidak lain disebabkan tali kendali yang lepas pada saat memutuskan untuk
berutang. Dulu kala, orang berutang memang benar-benar uang untuk bertahan
hidup. Uang sudah benar-benar ngga ada lagi di kantong, bekerja sana-sini tetap
saja tidak cukup hasilnya. Sehingga opsi yang dipilih akhirnya berutang.
Namun
di zaman now, untuk makan siang saja kita kadang berutang, untuk sekedar
belanja online pun berutang, padahal uang di tabungan ada. Belum lagi untuk
benda atau hal-hal lain yang tidak menjadi kebutuhan utama.
Banyak
sekali momen terjadinya pergulatan panjang layaknya kisah perang Baratayuda antara
Pandawa dan Kurawa. Cuma kali ini perangnya antara kebutuhan dan keinginan. Jika memang Anda berutang karena kebutuhan,
it’s fine. Tapi jika berutang karena menginginkan sesuatu, itu menjadi hal lain.
Faktanya adalah sering kali tidak terjadi perang, alias tanpa terjadi perang, “keinginan”
sudah terpilih sebagai pemenang. Jarang sekali kita berpikir 3 kali untuk suatu
hal yang akan kita beli, layakkah dipenuhi dengan utang?
Contoh
sederhana, mau beli gadget baru, sementara gadget lama masih
layak pakai. Gadget baru akan dibeli karena lebih trendy, bagus, dan lain-lain.
Harganya sekitar setengah gaji bulanan. Lihat saldo tabungan, tidak sampai
setengah bulan gaji. Kartu kredit di dompet, ada. Aman… Bulan depan bayar tinggal
bayar 10%, alhasil utang muncul. Gadget lama? Masuk laci, alasannya buat
cadangan.
Keputusan-keputusan
seperti contoh tersebut, seringkali diambil dengan cepat dan emosional tanpa
melibatkan logika dan mempertimbangkan apakah termasuk kebutuhan atau
keinginan. Jika perang antara kebutuhan dan keinginan sudah diputuskan
pemenangnya, kita lanjut ke poin kedua.
2.Tidak Melakukan Financial Check Up
Hal
ini juga sering menjadi penyebab kesulitan seseorang membayar utang. Banyak
sekali yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya dirinya tidak layak berutang.
Arus kas keluarga masih defisit, kemudian rasio pembayaran utang sebelumnya
sudah mencapai hingga 35% lebih. Sebagai contoh, melanjutkan dari gadget
tadi, pada saat muncul saldo kartu kredit, karena jumlahnya separuh gaji bulanan
sementara dana idle tidak sebesar itu, alhasil saldo utang kartu kredit tidak
bisa dibayar lunas. Yang dibayar hanya 10% saja sesuai pembayaran minimum, pada
akhirnya muncul saldo utang, dan tentu…
bunga.
Jika
memang Anda menggunakan kartu kredit untuk memenuhi keinginan, sebaiknya
pastikan Anda sudah memiliki tabungan yang cukup untuk membayar semua saldo. Sehingga
fungsi kartu kredit hanyalah sebagai alat bantu transaksi. Kebiasaan membayar
minimal pada kartu kredit akan membuat bunga menumpuk dan menjadi sangat lama untuk
lunas.
3.Tidak Mau Mengurangi Utang
Maksud
poin ketiga ini adalah, jika seseorang telah mengetahui bahwa dirinya mengalami
kesulitan dalam membayar utang, namun tidak mau berusaha untuk menanggulangi
masalah tersebut. Salah satu cara adalah dengan melunasi seluruh atau sebagian pokok
utang, atau mencoba melakukan refinancing, sehingga arus kas ke depan dapat
menjadi lebih ringan.
Alih-alih
melakukan hal tersebut, yang dilakukan adalah justru berutang ke tempat lain
untuk membayar cicilan utangnya tersebut. Fenomena ini sering disebut Gali
Lubang Tutup Lubang, seperti lagu Bang Haji Rhoma Irama. Membayar cicilan utang
dengan utang lainnya. Padahal, aset di rumahnya cukup banyak yang dapat dijual
untuk mengurangi pokok utang.
Misalnya
mobil, motor, perhiasan, dan lainnya. Menjual
aset salah satu cara untuk mengurangi pokok utang, syukur-syukur bisa dengan
berkurangnya pokok tersebut maka cicilan utang bulanan pun menurun. Atau
penjualan aset bisa melunasi cicilan bulanan selama beberapa waktu, sehingga
ada kesempatan untuk menabung atau mencari sumber penghasilan lain tanpa gangguan.
Semoga kita semua dilindungi dari kesulitan
dalam melakukan pembayaran cicilan utang. Lebih enak lagi memang tidak memiliki
utang. Bebas tanpa kewajiban pembayaran bulanan.. Namun jika memang harus
berutang, pastikanlah bahwa memang kita harus utang sebagai sumber pendanaan
untuk memenuhi kebutuhan. Pertimbangkan dengan kepala dingin sebelum
memutuskan.
Resesi… kata-kata ini begitu sering terlintas
dalam lini masa kita, baik di media sosial maupun saat melakukan percakapan dengan
teman, kolega, dan sahabat-sahabat. Ada yang kuatir dengan dampak resesi, ada juga
yang cuek saja. Toh itu semua masih kemungkinan, begitu katanya. Kita tentu
tidak mengharapkan resesi terjadi sehingga tidak akan membawa dampak buruk pada
kehidupan. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai persiapan,
sehingga kita tidak akan terlalu kaget apabila di kemudian hari resesi
benar-benar terjadi.
1.Jangan panik
Hal
pertama yang harus dilakukan apabila terjadi resesi adalah stay calm.
Tetap tenang dan jangan panik. Ini sangat penting untuk diingat, dan sebaiknya dilakukan.
Jangan sampai gegabah dalam melakukan pengambilan keputusan, terutama keputusan
keuangan yang signifikan, termasuk pada saat resesi belum terjadi. Kondisi keuangan
mungkin saja terpengaruh saat terjadinya resesi, namun sebaiknya tidak perlu
panik berlebihan.
Waspada,
jelas perlu. Persiapan, sudah pasti harus dilakukan.
Jadi
jangan sampai Anda malah sudah melakukan keputusan-keputusan keuangan yang
belum tentu menguntungkan di saat ini, hanya karena panik akan resesi yang belum
tentu terjadi nanti. Tetap tenang dan tetapkan segala hal penting dengan kepala
dingin.
2.Dana darurat
Siapkan
dana cadangan atau darurat dalam jumlah yang cukup. Yang namanya dana darurat
sebenarnya tidak berguna hanya pada saat resesi. Dana darurat juga akan berguna
saat terjadi kondisi emergency di saat perekonomian berjalan normal. Kita
tentu berharap kondisi tersebut tidak pernah kita harapkan terjadi, sehingga
kita tidak akan pernah menggunakan dana darurat.
Ya, sebenarnya
dana darurat hanya boleh digunakan pada saat kondisi darurat terjadi. Intinya,
dana itu baru akan digunakan pada saat kondisi yang tidak enak, tidak nyaman. Misalnya,
saat kondisi sakit sedangkan asuransi kantor tidak meng-cover jenis
penanganan pengobatannya.
Contoh
lain adalah kondisi kendaraan operasional utama sudah tua dan sering
sakit-sakitan sehingga dibutuhkan kendaraan yang lebih layak dengan segera. Dan
contoh saat ini yang sedang marak terjadi, bahkan di media-media disebut
sebagai “badai”, adalah saat di-PHK.
Jumlah
dana darurat yang minimal dimiliki adalah sebesar 3 bulan pengeluaran, namun
pada saat pandemi dan kondisi yang VUCA seperti sekarang, jumlahnya boleh
dinaikkan hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Siapa yang menyangka di tengah
pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca pandemi, ternyata PHK marak terjadi dan
sulit mendapat lapangan pekerjaan baru. Bisa jadi dibutuhkan waktu hingga 12
bulan untuk mencari pekerjaan utama pengganti, sehingga di sinilah dana darurat
berperan untuk menggantikan penghasilan utama yang hilang..
3.Mencari sumber pendapatan lain
Resesi
adalah saat-saat yang penuh dengan ketidakpastian. Jika kita sudah melakukan
Langkah-langkah yang sebelumnya telah dijelaskan, tidak panik, lalu tetap menjaga
kewaspadaan, dana darurat pun juga telah disiapkan dengan jumlah yang cukup,
tetap saja kondisi ketidakpastian menyelimuti perekonomian. Apabila kita adalah
seorang pemilik usaha, maka fluktuasi omset menjadi hal yang dikuatirkan.
Apabila kita adalah seorang karyawan, maka badai PHK juga mungkin saja terjadi
di perusahaan yang kita cintai.
Adanya
pendapatan lain di luar pendapatan utama saat ini bisa menjadi jalan keluar apabila
kita benar benar terkena PHK, atau sumber penghasilan utama terpengaruh oleh
resesi, missal terjadi pengurangan gaji. Jagalah hubungan dengan orang-orang
terdekat kita, apabila ada peluang dari network untuk menambah
penghasilan, tidak ada salahnya mencoba peluang tersebut. Manfaatkan skill serta
sumber daya yang kita miliki, lalu lakukan eksploitasi agar kemampuan yang kita
miliki bisa manambah penghasilan.
4.Tetap lakukan konsumsi
Sebagian
besar perekonomian Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi. Sehingga apabila
masyarakat menghentikan konsumsi secara serentak di kala resesi, justru akan
semakin memperparah dampaknya. Kita bisa melihat contoh pada saat pandemi. Di
saat PPKM atau lock down diterapkan secara masif, maka banyak perusahaan
yang menerapkan kebijakan work from home. Pergerakan manusia di luar
rumah pun menurun drastis. Dampaknya antara lain, penurunan beberapa sektor
industri, seperti pariwisata, transportasi, serta di sektor informal yang
sangat besar jumlahnya di Indonesia.
Usaha
makanan minuman informal seperti warteg, warungkaki lima, gerobak dorong,
starling, pedagang keliling, yang biasanya ramai berusaha di sepanjang hari,
banyak sekali yang terpaksa tidak dapat berjualan. Itu hanya sebagian contoh
saja. Memang sebagian sektor industri lain meningkat di kala pandemi, seperti
sektor kesehatan dan jasa ekspedisi. Namun lebih banyak yang terpengaruh
negatif akibat berhentinya konsumsi masyarakat. Apabila resesi terjadi, maka
konsumsi sebaiknya tidak diturunkan secara drastis.
Penyesuaian
dengan kondisi saat resesi memang mutlak diperlukan, namun jangan sampai
berhenti total. Banyak saudara-saudara kita yang bergantung kehidupannya dari
sektor yang mengandalkan konsumsi masyarakat.
Resesi memang masih berpotensi terjadi di
Indonesia, dan hal tersebut di luar kontrol kita karena banyak sekali faktor
yang menyebabkan dunia dilanda badai resesi. Apakah akan ada resesi atau tidak,
sepatutnya kita tetap mengusahakan persiapan yang terbaik, kemudian berdoa agar
kita tetap diberikan kekuatan untuk menghadapi resesi apabila benar benar
terjadi.
Beberapa waktu lalu, GoTo melakukan PHK pada sekitar 1300-an orang karyawannya. Disusul kemudian Ruang Guru juga melakukan PHK ratusan karyawannya. Total ada sekitar 18 perusahaan di Indonesia yang diterjang badai PHK seperti dilansir Detikcom. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah ini dampak awal dari resesi yang belakangan sering diperbincangkan?
Salah satu alasan dari Goto dan Ruang guru melakukan “perampingan” ini adalah karena dampak dari kondisi perekonomian global. Saya berdoa semoga teman-teman dan saudara kita yang di-PHK diberikan kesabaran dan kemudahan dalam meneruskan karirnya, di bidang apapun kompetensi mereka.
Kali ini kita tidak akan membahas mengenai resesi atau perekonomian global. Bahasan kita kali ini adalah mengenai dana darurat, yang menurut saya akan sangat berguna bagi kita semua dalam melakukan perencanaan Keuangan. Anda pasti sudah sering mendengar istilah dana darurat dalam perencanaan keuangan bukan? Sesuai dengan namanya, maka dana darurat adalah dana yang akan digunakan pada saat keadaan darurat, dan salah satu contoh yang sering digunakan adalah apabila seseorang terkena PHK.
Besar jumlah dana darurat yang disarankan minimal sebesar 3 bulan pengeluaran. Rentang atasnya bisa sampai sebesar 12 bulan pengeluaran.
Pada kondisi pandemi, beberapa perencana keuangan bahkan menyarankan untuk menambahkan jumlah tersebut hingga 24 bulan pengeluaran. Mengapa demikian? Tak lain tak bukan karena kondisi ketidakpastian yang masih rawan terjadi.
Pandemi diprediksikan berakhir beberapa tahun lagi, ada yang mengatakan tahun 2025. Kondisi geopolitik dunia pun juga dinamis, seperti perang Rusia-Ukraina, hubungan antara China-Taiwan yang kadang memanas, maka persiapan terbaik layak dilakukan. Namun mengumpulkan dana darurat sebanyak 3 bulan pengeluaran saja sepertinya sudah menjadi suatu tantangan tersendiri, apalagi 24 bulan!
“Mana bisa bro, boro-boro 3 bulan dana darurat, buat makan seminggu ke depan aja masih pusing! Belum cicilan utang yang menjulang!”.
Godaan jaman now memang banyak sekali, tawaran diskon ini, diskon itu, cicilan later ini, cicilan later itu, mau healing ke sana, healing ke sini. Diskon 1.1, 2.2, 3.3 sampe 12.12 selalu dinantikan tiap bulan. Dan itu semua hadir di dalam genggaman kita! Nggak laki nggak perempuan, sama saja. Kalau sudah pegang ponsel, lalu membuka aplikasi marketlace, pilih barang, masukin keranjang, lalu pakai later atau kartu kredit, 2 hari kemudian datang deh barangnya.
Jadi, apabila kita kembali ke dana darurat, dari jumlah 3 bulan tadi yang minimal dikumpulkan sebagai dana darurat, maka dana tersebut harus ditempatkan di lokasi yang terpisah dengan lokasi dana operasional sehari-hari. Misal dana darurat ditempatkan di rekening bank, maka rekening bank dana darurat tidak boleh bercampur dengan rekening operasional sehari-hari. Oh iya, saya bukan orang bank ya, nanti dikira saya agen marketing bank sehingga Anda harus buka rekening baru dengan biaya administrasi tambahan tiap bulannya.
Ada 3 kriteria penempatan dana darurat, dan sekaligus nanti akan kita lihat contoh instrumen yang cocok dengan kriteria tersebut.
1. Aman
Yang pertama, dana darurat harus ditempatkan di instrumen yang aman. Sebagai contoh, rekening tabungan di bank. Tingkat keamanan bank sudah sangat baik. Sebisa mungkin bukalah rekening di bank yang mengikuti program LPS. Reksadana pasar uang juga cukup aman karena terdaftar dalam sistem Kustodian Sentral Efek Indonesia. Cara membelinya pun sangat mudah, bisa melalui aplikasi dalam gadget kita.
Kemudian logam mulia, seperti emas atau perak. Dari sisi nilai, logam mulia menunjukan tren peningkatan dalam jangka panjang, namun berfluktuasi dalam jangka pendek. Maka Anda harus perhatikan jumlah dana darurat yang ditempatkan di logam mulia, jangan semuanya dalam bentuk logam mulia. Dari risiko kehilangan, logam mulia berpotensi hilang dicuri. Maka tempatkan di tempat yang aman seperti safe deposit box atau brankas di rumah.
Syarat keamanan lainnya termasuk keamanan dari ancaman penurunan nilai. Nah ini agak tricky untuk rekening tabungan. Dari sisi keamanan fisiknya, tabungan di bank dapat dikatakan sangat aman. Tapi dari sisi penurunan nilai, uang berpotensi turun nilainya akibat inflasi.
Karena dari sisi keamanan fisik rekening tabungan memiliki keunggulan, maka tempatkan dengan jumlah yang optimal.
Logam mulia unggul di keamanan nilai, namun dari sisi keamanan fisik, perlu tempat penyimpanan yang mungkin membutuhkan biaya tambahan. Reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan lain karena secara nilai bisa naik dan dari sisi keamanan bisa diandalkan. Jadi pertimbangkanlah proporsi yang optimal untuk masing-masing instrumen.
2. Likuid
Likuid, artinya cair, dalam arti mudah dicairkan atau dikonversi menjadi uang tunai apabila bentuknya bukan uang tunai. Jika instrumennya berupa rekening tabungan, maka untuk menjadikannya uang tunai, cukup diambil di ATM. Bisa juga digunakan untuk keadaan darurat secara digital atau melalui transfer.
Jika bentuknya logam mulia, maka perlu dijual dulu atau dengan ditukar.
Salah satu kelebihan logam mulia adalah sifatnya yang universal diterima di seluruh dunia. Sedangkan reksadana pasar uang perlu beberapa hari kerja untuk redemption hingga dana masuk ke rekening, namun ini dianggap masih cukup likuid.
3. Mudah diakses
Instrumen penempatan dana darurat juga harus mudah diakses. Artinya mudah Anda jangkau dan akses untuk digunakan. Jika dana darurat ditempatkan di rekening tabungan, maka ada mobile banking, ada ATM yang tersedia di banyak lokasi.
Logam mulia, Anda cukup mengambil emas atau peraknya, kemudian menjualnya ke toko atau ke teman.
Perlu dipertimbangkan jika logam mulia disimpan di SDB, apakah lokasi SDB mudah dijangkau dan selalu buka setiap hari. Bayangkan Anda perlu dana darurat dalam 3 jam ke depan, sementara sekarang adalah hari Minggu pagi dimana kantor SDB baru buka Senin, alhasil logam mulia baru bisa diambil besok.
Mengakses reksadana pasar uang cukup melalui jempol di gadget dan tunggu beberapa hari baru cair. Coba bayangkan Anda menempatkan dana darurat di properti, sudah mencari pembelinya susah, kesepakatan harga juga tidak mudah dicapai, perlu prosedur ke notaris kemudian baru dana darurat dapat diakses.
emikianlah 3 kriteria utama untuk penempatan dana darurat yang bisa Anda terapkan. Sekarang, waktunya Anda menyiapkan dana darurat tersebut dengan menggunakan perencanaan Keuangan pribadi agar Anda siap menghadapi berbagai kemungkinan kondisi darurat!