Sunday, 18 December 2022

4 Pos Anggaran Keluarga yang Wajib Disiapkan

Salah satu pertanyaan populer yang sering sekali ditanyakan kepada saya adalah bagaimana cara mengatur pola keuangan keluarga. Berapa persen yang harus ditabung, berapa persen yang harus diinvestasikan, dan berapa yang boleh digunakan untuk healing. Macam-macam memang kebutuhan manusia, tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang. Semua memiliki kebutuhan yang berbeda. Kalaupun ada yang memiliki kebutuhan yang sama, terkadang kondisi keuangannya berbeda.



Satu hal yang sama dan pasti adalah, Anda pasti akan menggunakan uang tesebut. Lha, kan uangnya ditabung, mas. Tidak digunakan. Nah disini kita bicara mengenai pos-pos penggunaan pendapatan. Termasuk tabungan. Jadi mindsetnya adalah, walaupun untuk tabungan atau investasi, tetap itu dianggap sebagai penggunaan, atau mungkin bisa juga deh digunakan istilah pengeluaran, suka-suka Anda aja. Istilah kerennya untuk tulisan ini adalah, budgeting.

Ada satu metode yang sangat umum dgunakan untuk melakukan budgeting, yaitu metode 10 20 30 40. Metode ini membagi pendapatan ke dalam 4 bagian utama, dengan porsi masing-masing sebesar 10%, 20%, 30% dan 40%.

1.       10% adalah untuk kepentingan agama dan sosial

Contoh dari pengeluarannya adalah zakat, sedekah, perpuluhan, sumbangan, angpao pernikahan, dan pengeluaran lain yang sejenis. Bagian ini ditempatkan pertama kali di depan tidak lain tidak bukan karena memang ini adalah pos pengeluaran yang paling penting, karena dampaknya sangat signifikan (nantinya). Ya, Anda mungkin menganggap sedekah, misalnya, tidak memberikan dampak apapun saat ini, namun itu sebenarnya bisa menjadi tabungan untuk di akhirat nanti.



Inti dari pos pengeluaran ini adalah tentang charity, tentang kebaikan. Saya sering menyebut pengeluaran untuk pos pertama ini sebagai blessed spending. Anggarkanlah minimal 10% dari pendapatan bulanan Anda.

2.       20% adalah untuk tabungan, investasi, dan asuransi

Pos pengeluaran berikutnya adalah untuk tabungan dan investasi. Apabila Anda memiliki tujuan keuangan, maka bisa diwujudkan dengan cara menabung atau berinvestasi. Namun jika Anda belum memiliki dana darurat, maka sebaiknya fokuskan pos pengeluaran ini untuk membangun dana darurat terlebih dahulu ketimbang berinvestasi.

Pos ini juga merupakan bagian dari pendapatan yang digunakan untuk membayar premi asuransi Anda. Yang paling utama adalah miliki proteksi untuk kesehatan Anda sekeluarga, apabila ini sudah terpenuhi maka bisa dilanjutkan dengan memiliki asuransi jiwa untuk melindungi kehidupan keluarga apabila terjadi kondisi yang menyebabkan pencari nafkah utama tidak dapat bekerja.

3.       30% adalah untuk  cicilan utang

Berikutnya adalah pos untuk pengeluaran utang, jika ada. Untuk besarannya dianjurkan tidak lebih dari 30-35%. Lebih dari itu perlu dilihat lagi kondisi keuangannya secara menyeluruh. Secara umum, banyak lembaga keuangan yang mensyaratkan besar porsi cicilan utang adalah sebesar 30% dari pendapatan bulanan. Maka pastikan besaran anggaran pengeluaran bulanan Anda untuk membayar cicilan utang, dan di sini maksudnya adalah seluruh utang ya, artinya termasuk KPR, KTA, kartu kredit, dan segala jenis utang lainnya, kecuali utang budi, karena susah menilainya.

4.       40% adalah untuk kebutuhan rutin bulanan dari pendapatan

Sedangkan sisanya 40% adalah untuk kebutuhan rutin bulanan sehari-hari. Contohnya untuk belanja dapur, SPP anak, biaya transportasi, pulsa, air, listrik, rekreasi, dan lainnya. Pos pengeluaran untuk kebutuhan rutin ini ditempatkan pada bagian terakhir untuk memastikan bahwa Anda sudah menganggarkan dan kemudian mengeluarkan uang untuk pembayaran zakat, sedekah, menabung, serta untuk membayar utang.



Pola yang biasa dilakukan oleh keluarga Indonesia adalah terlebih dulu mengeluarkan uang untuk pos keempat ini di awal. Jadi biaya bulanan, seperti belanja dapur, rekreasi, pulsa dan lainnya dikeluarkan di awal, baru kemudian berpikir untuk, misalnya,  menabung serta membayar utang. Alhasil yang ada lebih sering tidak ada sisa lagi dari pendapatan untuk menabung atau membayar utang.

Metode 10 20 30 40 ini, sangat fleksibel, jadi misalkan tidak memiliki utang, maka Anda dapat mengalokasikan porsi 30% tersebut untuk kebutuhan lainnya. Demikian pula, apabila dana untuk tujuan keuangan sudah tercapai, maka porsi investasi dapat Anda alokasikan untuk pengeluaran lainnya. Selain metode 10 20 30 40, ada juga beberapa metode yang bisa menjadi alternatif untuk melakukan budgeting yaitu , 1/3 1/3 1/3, dan 20/30/50. Lain kali kita akan bahas metode-metode tersebut.

Monday, 12 December 2022

3 Hal Utama Penyebab Kesulitan Membayar Utang

Pernahkah Anda merasa kesulitan membayar cicilan utang? Entah itu utang kartu kredit, utang pinjaman online, KTA, KPR,  atau later-later yang sering diiklankan. Pada saat jatuh tempo, kok rasa-rasanya cepat sekali sudah datang waktu untuk membayar cicilan kembali. Atau saat jatuh tempo, uang di dompet sudah menipis, hanya cukup untuk kebutuhan pokok saja sampai gajian berikutnya, sementara cicilan masih ada yang harus dibayar. Bikin mumet saja.

Dana darurat untuk berjaga-jaga? Nggak punya juga… rasa-rasanya mau menabung saja susah… Tidak pernah ada sisa uang gaji di akhir bulan. Bikin pusing ya? Yuk, mari kita lihat penyebab umum yang sering mengakibatkan orang kesulitan membayar utang.



1.       Tidak Dapat Mengontrol Diri

Kok bisa self control dikaitkan dengan pembayaran tidak bisa membayar utang? Ini tidak lain disebabkan tali kendali yang lepas pada saat memutuskan untuk berutang. Dulu kala, orang berutang memang benar-benar uang untuk bertahan hidup. Uang sudah benar-benar ngga ada lagi di kantong, bekerja sana-sini tetap saja tidak cukup hasilnya. Sehingga opsi yang dipilih akhirnya berutang.

Namun di zaman now, untuk makan siang saja kita kadang berutang, untuk sekedar belanja online pun berutang, padahal uang di tabungan ada. Belum lagi untuk benda atau hal-hal lain yang tidak menjadi kebutuhan utama.



Banyak sekali momen terjadinya pergulatan panjang layaknya kisah perang Baratayuda antara Pandawa dan Kurawa. Cuma kali ini perangnya antara kebutuhan dan keinginan.  Jika memang Anda berutang karena kebutuhan, it’s fine. Tapi jika berutang karena menginginkan sesuatu, itu menjadi hal lain. Faktanya adalah sering kali tidak terjadi perang, alias tanpa terjadi perang, “keinginan” sudah terpilih sebagai pemenang. Jarang sekali kita berpikir 3 kali untuk suatu hal yang akan kita beli, layakkah dipenuhi dengan utang?

Contoh sederhana, mau beli gadget baru, sementara gadget lama masih layak pakai. Gadget baru akan dibeli karena lebih trendy, bagus, dan lain-lain. Harganya sekitar setengah gaji bulanan. Lihat saldo tabungan, tidak sampai setengah bulan gaji. Kartu kredit di dompet, ada. Aman… Bulan depan bayar tinggal bayar 10%, alhasil utang muncul. Gadget lama? Masuk laci, alasannya buat cadangan.

Keputusan-keputusan seperti contoh tersebut, seringkali diambil dengan cepat dan emosional tanpa melibatkan logika dan mempertimbangkan apakah termasuk kebutuhan atau keinginan. Jika perang antara kebutuhan dan keinginan sudah diputuskan pemenangnya, kita lanjut ke poin kedua.

2.       Tidak Melakukan Financial Check Up

Hal ini juga sering menjadi penyebab kesulitan seseorang membayar utang. Banyak sekali yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya dirinya tidak layak berutang. Arus kas keluarga masih defisit, kemudian rasio pembayaran utang sebelumnya sudah mencapai hingga 35% lebih. Sebagai contoh, melanjutkan dari gadget tadi, pada saat muncul saldo kartu kredit, karena jumlahnya separuh gaji bulanan sementara dana idle tidak sebesar itu, alhasil saldo utang kartu kredit tidak bisa dibayar lunas. Yang dibayar hanya 10% saja sesuai pembayaran minimum, pada  akhirnya muncul saldo utang, dan tentu… bunga.



Jika memang Anda menggunakan kartu kredit untuk memenuhi keinginan, sebaiknya pastikan Anda sudah memiliki tabungan yang cukup untuk membayar semua saldo. Sehingga fungsi kartu kredit hanyalah sebagai alat bantu transaksi. Kebiasaan membayar minimal pada kartu kredit akan membuat bunga menumpuk dan menjadi sangat lama untuk lunas.

3.       Tidak Mau Mengurangi Utang

Maksud poin ketiga ini adalah, jika seseorang telah mengetahui bahwa dirinya mengalami kesulitan dalam membayar utang, namun tidak mau berusaha untuk menanggulangi masalah tersebut. Salah satu cara adalah dengan melunasi seluruh atau sebagian pokok utang, atau mencoba melakukan refinancing, sehingga arus kas ke depan dapat menjadi lebih ringan.

Alih-alih melakukan hal tersebut, yang dilakukan adalah justru berutang ke tempat lain untuk membayar cicilan utangnya tersebut. Fenomena ini sering disebut Gali Lubang Tutup Lubang, seperti lagu Bang Haji Rhoma Irama. Membayar cicilan utang dengan utang lainnya. Padahal, aset di rumahnya cukup banyak yang dapat dijual untuk mengurangi pokok utang.

Misalnya mobil, motor, perhiasan, dan lainnya.  Menjual aset salah satu cara untuk mengurangi pokok utang, syukur-syukur bisa dengan berkurangnya pokok tersebut maka cicilan utang bulanan pun menurun. Atau penjualan aset bisa melunasi cicilan bulanan selama beberapa waktu, sehingga ada kesempatan untuk menabung atau mencari sumber penghasilan lain tanpa gangguan.

 

Semoga kita semua dilindungi dari kesulitan dalam melakukan pembayaran cicilan utang. Lebih enak lagi memang tidak memiliki utang. Bebas tanpa kewajiban pembayaran bulanan.. Namun jika memang harus berutang, pastikanlah bahwa memang kita harus utang sebagai sumber pendanaan untuk memenuhi kebutuhan. Pertimbangkan dengan kepala dingin sebelum memutuskan.



Tuesday, 6 December 2022

Siapkan 4 Hal Ini Untuk Menghadapi Resesi

Resesi… kata-kata ini begitu sering terlintas dalam lini masa kita, baik di media sosial maupun saat melakukan percakapan dengan teman, kolega, dan sahabat-sahabat. Ada yang kuatir dengan dampak resesi, ada juga yang cuek saja. Toh itu semua masih kemungkinan, begitu katanya. Kita tentu tidak mengharapkan resesi terjadi sehingga tidak akan membawa dampak buruk pada kehidupan. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai persiapan, sehingga kita tidak akan terlalu kaget apabila di kemudian hari resesi benar-benar terjadi.



1.    Jangan panik

Hal pertama yang harus dilakukan apabila terjadi resesi adalah stay calm. Tetap tenang dan jangan panik. Ini sangat penting untuk diingat, dan sebaiknya dilakukan. Jangan sampai gegabah dalam melakukan pengambilan keputusan, terutama keputusan keuangan yang signifikan, termasuk pada saat resesi belum terjadi. Kondisi keuangan mungkin saja terpengaruh saat terjadinya resesi, namun sebaiknya tidak perlu panik berlebihan.

Waspada, jelas perlu. Persiapan, sudah pasti harus dilakukan.

Jadi jangan sampai Anda malah sudah melakukan keputusan-keputusan keuangan yang belum tentu menguntungkan di saat ini, hanya karena panik akan resesi yang belum tentu terjadi nanti. Tetap tenang dan tetapkan segala hal penting dengan kepala dingin.

2.    Dana darurat

Siapkan dana cadangan atau darurat dalam jumlah yang cukup. Yang namanya dana darurat sebenarnya tidak berguna hanya pada saat resesi. Dana darurat juga akan berguna saat terjadi kondisi emergency di saat perekonomian berjalan normal. Kita tentu berharap kondisi tersebut tidak pernah kita harapkan terjadi, sehingga kita tidak akan pernah menggunakan dana darurat.



Ya, sebenarnya dana darurat hanya boleh digunakan pada saat kondisi darurat terjadi. Intinya, dana itu baru akan digunakan pada saat kondisi yang tidak enak, tidak nyaman. Misalnya, saat kondisi sakit sedangkan asuransi kantor tidak meng-cover jenis penanganan pengobatannya.

Contoh lain adalah kondisi kendaraan operasional utama sudah tua dan sering sakit-sakitan sehingga dibutuhkan kendaraan yang lebih layak dengan segera. Dan contoh saat ini yang sedang marak terjadi, bahkan di media-media disebut sebagai “badai”, adalah saat di-PHK.

Jumlah dana darurat yang minimal dimiliki adalah sebesar 3 bulan pengeluaran, namun pada saat pandemi dan kondisi yang VUCA seperti sekarang, jumlahnya boleh dinaikkan hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Siapa yang menyangka di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca pandemi, ternyata PHK marak terjadi dan sulit mendapat lapangan pekerjaan baru. Bisa jadi dibutuhkan waktu hingga 12 bulan untuk mencari pekerjaan utama pengganti, sehingga di sinilah dana darurat berperan untuk menggantikan penghasilan utama yang hilang..

3.    Mencari sumber pendapatan lain

Resesi adalah saat-saat yang penuh dengan ketidakpastian. Jika kita sudah melakukan Langkah-langkah yang sebelumnya telah dijelaskan, tidak panik, lalu tetap menjaga kewaspadaan, dana darurat pun juga telah disiapkan dengan jumlah yang cukup, tetap saja kondisi ketidakpastian menyelimuti perekonomian. Apabila kita adalah seorang pemilik usaha, maka fluktuasi omset menjadi hal yang dikuatirkan. Apabila kita adalah seorang karyawan, maka badai PHK juga mungkin saja terjadi di perusahaan yang kita cintai.

Adanya pendapatan lain di luar pendapatan utama saat ini bisa menjadi jalan keluar apabila kita benar benar terkena PHK, atau sumber penghasilan utama terpengaruh oleh resesi, missal terjadi pengurangan gaji. Jagalah hubungan dengan orang-orang terdekat kita, apabila ada peluang dari network untuk menambah penghasilan, tidak ada salahnya mencoba peluang tersebut. Manfaatkan skill serta sumber daya yang kita miliki, lalu lakukan eksploitasi agar kemampuan yang kita miliki bisa manambah penghasilan.

4.    Tetap lakukan konsumsi

Sebagian besar perekonomian Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi. Sehingga apabila masyarakat menghentikan konsumsi secara serentak di kala resesi, justru akan semakin memperparah dampaknya. Kita bisa melihat contoh pada saat pandemi. Di saat PPKM atau lock down diterapkan secara masif, maka banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan work from home. Pergerakan manusia di luar rumah pun menurun drastis. Dampaknya antara lain, penurunan beberapa sektor industri, seperti pariwisata, transportasi, serta di sektor informal yang sangat besar jumlahnya di Indonesia.



Usaha makanan minuman informal seperti warteg, warungkaki lima, gerobak dorong, starling, pedagang keliling, yang biasanya ramai berusaha di sepanjang hari, banyak sekali yang terpaksa tidak dapat berjualan. Itu hanya sebagian contoh saja. Memang sebagian sektor industri lain meningkat di kala pandemi, seperti sektor kesehatan dan jasa ekspedisi. Namun lebih banyak yang terpengaruh negatif akibat berhentinya konsumsi masyarakat. Apabila resesi terjadi, maka konsumsi sebaiknya tidak diturunkan secara drastis.

Penyesuaian dengan kondisi saat resesi memang mutlak diperlukan, namun jangan sampai berhenti total. Banyak saudara-saudara kita yang bergantung kehidupannya dari sektor yang mengandalkan konsumsi masyarakat.

Resesi memang masih berpotensi terjadi di Indonesia, dan hal tersebut di luar kontrol kita karena banyak sekali faktor yang menyebabkan dunia dilanda badai resesi. Apakah akan ada resesi atau tidak, sepatutnya kita tetap mengusahakan persiapan yang terbaik, kemudian berdoa agar kita tetap diberikan kekuatan untuk menghadapi resesi apabila benar benar terjadi.



Monday, 5 December 2022

3 Syarat Instrumen Keuangan Penempatan Dana Darurat

Beberapa waktu lalu, GoTo melakukan PHK pada sekitar 1300-an orang karyawannya. Disusul kemudian Ruang Guru juga melakukan PHK ratusan karyawannya. Total ada sekitar 18 perusahaan di Indonesia yang diterjang badai PHK seperti dilansir Detikcom. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah ini dampak awal dari resesi yang belakangan sering diperbincangkan? 

Salah satu alasan dari Goto dan Ruang guru melakukan “perampingan” ini adalah karena dampak dari kondisi perekonomian global. Saya berdoa semoga teman-teman dan saudara kita yang di-PHK diberikan kesabaran dan kemudahan dalam meneruskan karirnya, di bidang apapun kompetensi mereka.

 

Kali ini kita tidak akan membahas mengenai resesi atau perekonomian global. Bahasan kita kali ini adalah mengenai dana darurat, yang menurut saya akan sangat berguna bagi kita semua dalam melakukan perencanaan Keuangan. Anda pasti sudah sering mendengar istilah dana darurat dalam perencanaan keuangan bukan? Sesuai dengan namanya, maka dana darurat adalah dana yang akan digunakan pada saat keadaan darurat, dan salah satu contoh yang sering digunakan adalah apabila seseorang terkena PHK. Besar jumlah dana darurat yang disarankan minimal sebesar 3 bulan pengeluaran. Rentang atasnya bisa sampai sebesar 12 bulan pengeluaran. 

Pada kondisi pandemi, beberapa perencana keuangan bahkan menyarankan untuk menambahkan jumlah tersebut hingga 24 bulan pengeluaran. Mengapa demikian? Tak lain tak bukan karena kondisi ketidakpastian yang masih rawan terjadi. Pandemi diprediksikan berakhir beberapa tahun lagi, ada yang mengatakan tahun 2025. Kondisi geopolitik dunia pun juga dinamis, seperti perang Rusia-Ukraina, hubungan antara China-Taiwan yang kadang memanas, maka persiapan terbaik layak dilakukan. Namun mengumpulkan dana darurat sebanyak 3 bulan pengeluaran saja sepertinya sudah menjadi suatu tantangan tersendiri, apalagi 24 bulan! 

 “Mana bisa bro, boro-boro 3 bulan dana darurat, buat makan seminggu ke depan aja masih pusing! Belum cicilan utang yang menjulang!”. 

 Godaan jaman now memang banyak sekali, tawaran diskon ini, diskon itu, cicilan later ini, cicilan later itu, mau healing ke sana, healing ke sini. Diskon 1.1, 2.2, 3.3 sampe 12.12 selalu dinantikan tiap bulan. Dan itu semua hadir di dalam genggaman kita! Nggak laki nggak perempuan, sama saja. Kalau sudah pegang ponsel, lalu membuka aplikasi marketlace, pilih barang, masukin keranjang, lalu pakai later atau kartu kredit, 2 hari kemudian datang deh barangnya.

 

Jadi, apabila kita kembali ke dana darurat, dari jumlah 3 bulan tadi yang minimal dikumpulkan sebagai dana darurat, maka dana tersebut harus ditempatkan di lokasi yang terpisah dengan lokasi dana operasional sehari-hari. Misal dana darurat ditempatkan di rekening bank, maka rekening bank dana darurat tidak boleh bercampur dengan rekening operasional sehari-hari. Oh iya, saya bukan orang bank ya, nanti dikira saya agen marketing bank sehingga Anda harus buka rekening baru dengan biaya administrasi tambahan tiap bulannya. 

Ada 3 kriteria penempatan dana darurat, dan sekaligus nanti akan kita lihat contoh instrumen yang cocok dengan kriteria tersebut. 
1. Aman 
Yang pertama, dana darurat harus ditempatkan di instrumen yang aman. Sebagai contoh, rekening tabungan di bank. Tingkat keamanan bank sudah sangat baik. Sebisa mungkin bukalah rekening di bank yang mengikuti program LPS. Reksadana pasar uang juga cukup aman karena terdaftar dalam sistem Kustodian Sentral Efek Indonesia. Cara membelinya pun sangat mudah, bisa melalui aplikasi dalam gadget kita. 

Kemudian logam mulia, seperti emas atau perak. Dari sisi nilai, logam mulia menunjukan tren peningkatan dalam jangka panjang, namun berfluktuasi dalam jangka pendek. Maka Anda harus perhatikan jumlah dana darurat yang ditempatkan di logam mulia, jangan semuanya dalam bentuk logam mulia. Dari risiko kehilangan, logam mulia berpotensi hilang dicuri. Maka tempatkan di tempat yang aman seperti safe deposit box atau brankas di rumah. 

Syarat keamanan lainnya termasuk keamanan dari ancaman penurunan nilai. Nah ini agak tricky untuk rekening tabungan. Dari sisi keamanan fisiknya, tabungan di bank dapat dikatakan sangat aman. Tapi dari sisi penurunan nilai, uang berpotensi turun nilainya akibat inflasi. Karena dari sisi keamanan fisik rekening tabungan memiliki keunggulan, maka tempatkan dengan jumlah yang optimal.

Logam mulia unggul di keamanan nilai, namun dari sisi keamanan fisik, perlu tempat penyimpanan yang mungkin membutuhkan biaya tambahan. Reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan lain karena secara nilai bisa naik dan dari sisi keamanan bisa diandalkan. Jadi pertimbangkanlah proporsi yang optimal untuk masing-masing instrumen.

 

2. Likuid 
Likuid, artinya cair, dalam arti mudah dicairkan atau dikonversi menjadi uang tunai apabila bentuknya bukan uang tunai. Jika instrumennya berupa rekening tabungan, maka untuk menjadikannya uang tunai, cukup diambil di ATM. Bisa juga digunakan untuk keadaan darurat secara digital atau melalui transfer. Jika bentuknya logam mulia, maka perlu dijual dulu atau dengan ditukar. 

Salah satu kelebihan logam mulia adalah sifatnya yang universal diterima di seluruh dunia. Sedangkan reksadana pasar uang perlu beberapa hari kerja untuk redemption hingga dana masuk ke rekening, namun ini dianggap masih cukup likuid. 

3. Mudah diakses 
Instrumen penempatan dana darurat juga harus mudah diakses. Artinya mudah Anda jangkau dan akses untuk digunakan. Jika dana darurat ditempatkan di rekening tabungan, maka ada mobile banking, ada ATM yang tersedia di banyak lokasi. Logam mulia, Anda cukup mengambil emas atau peraknya, kemudian menjualnya ke toko atau ke teman. 

Perlu dipertimbangkan jika logam mulia disimpan di SDB, apakah lokasi SDB mudah dijangkau dan selalu buka setiap hari. Bayangkan Anda perlu dana darurat dalam 3 jam ke depan, sementara sekarang adalah hari Minggu pagi dimana kantor SDB baru buka Senin, alhasil logam mulia baru bisa diambil besok.

Mengakses reksadana pasar uang cukup melalui jempol di gadget dan tunggu beberapa hari baru cair. Coba bayangkan Anda menempatkan dana darurat di properti, sudah mencari pembelinya susah, kesepakatan harga juga tidak mudah dicapai, perlu prosedur ke notaris kemudian baru dana darurat dapat diakses. 


emikianlah 3 kriteria utama untuk penempatan dana darurat yang bisa Anda terapkan. Sekarang, waktunya Anda menyiapkan dana darurat tersebut dengan menggunakan perencanaan Keuangan pribadi agar Anda siap menghadapi berbagai kemungkinan kondisi darurat!

Mengetahui Kepastian Tanpa Persiapan

"Dia pensiunan yang sedang cari utangan, Fiq", kata seniorku. Saya tercenung mendengar jawaban itu saat menanyakan maksud kedatangan seseorang, sebut saja Mr. X, ke kantorku beberapa saat yang lalu. Mr. X dengan perlahan berkelana, berpindah dari satu meja ke meja lain, menemui teman-temannya yang masih aktif. Kadang diakhiri dengan senyuman, kadang berakhir dengan wajah datar muram. 

Dari wajah Mr. X kuperkirakan dia belum lama memulai masa pensiunnya. Mungkin baru 5 tahun. Namun saat ini beliau tengah mencari utangan akibat masalah keuangan yang dialaminya.

 

Peristiwa di atas terjadi sekitar 20 tahun lalu di Palembang, kota tempat saya ditempatkan bekerja di perusahaan ini pertama kali. Cerita itu saya lontarkan kembali kepada salah seorang teman yang bertanya, “Fiq, kamu kok bisa nyemplung di dunia perencanaan keuangan sih, sementara pekerjaan kantor kita itu nggak ada hubungannya sama sekali dengan perencanaan keuangan pribadi”. 

Sebagai catatan, saya bekerja di divisi keuangan, namun kan beda ya keuangan korporasi dengan keuangan pribadi. Untuk menjawab pertanyaan teman saya itu, saya biasanya menjawab, karena hobi. Namun hobi itu ternyata ada awalnya. Peristiwa di Palembang itu mungkin pencetusnya, karena setelah peristiwa itu, saya membaca banyak buku, mengikuti banyak pelatihan, menulis, dan kadang memberikan sharing, mengenai perencanaan keuangan. 

Namun setelah saya ulik-ulik lagi, ternyata dalam sejarah kehidupan pribadi yang saya lalui, banyak sekali kejadian terkait kondisi perencanaan keuangan yang buruk. Kondisi keuangan keluarga saat saya melalui masa kecil hingga lulus kuliah sebenarnya tidak lebih baik dari Mr. X, hanya saja saya tidak sadar. Dengan kata lain selama ini saya yang mengira kondisi keuangan keluarga baik-baik saja, ternyata salah. Dan sudah terlambat saat saya menyadari kondisi itu. 

Kata om Mark Twain, “Bukan ketidaktahuan yang membuatmu dalam masalah, namun hal yang kamu yakini benar ternyata salah”. Kondisi tidak sadar, atau meyakini semuanya baik-baik saja, itu ibarat bom waktu yang akan meledak pada saatnya nanti. Contohnya ya itu tadi. Mr. X adalah pensiunan middle level salah satu BUMN di Indonesia. Gaji saat aktif oke, fasilitas kerja oke, kehidupan mapan, fasilitas kesehatan saat pensiun pun masih dapat, dana pensiun bulanan ada. Lha emang masih kurang ya? 

Usut punya usut, ternyata pesangon yang diterima habis untuk membangun rumah, traveling, mobil baru, dan hal konsumtif lainnya. Gaya hidup semasa aktif bekerja tetap dibawa pada saat sudah tidak aktif bekerja. Padahal uang pensiun bulanan yang diterima itu nge-drop banget sampai sekitar tinggal 5-10% saja. Alhasil perlahan namun pasti tabungan pun tergerus untuk mengimbangi gaya hidup. Persentase pensiun bulanan 5-10% ini bisa berbeda-beda ya tiap industri. 

Sekarang bayangkan saja, dari gaji saat terakhir aktif bekerja, taruhlah 30 juta. Maka pensiun bulanan yang diterima hanya 3 juta? Iya kalau 30 juta, kalau kurang dari itu? Mau tidak mau life style yang tadinya 30 juta menjadi hanya 3 juta harus bisa disiasati dengan berbagai persiapan. Kalau ada persiapannya… kalau tidak?


Masa hari tua adalah suatu masa yang pasti akan dilalui. Yah, boleh saja Anda berkilah belum tentu juga kita mengalami masa tua, karena bisa saja mati di masa muda. Namun tentu asumsinya, bahwa kita berumur panjang, paling tidak 75 tahun deh seperti usia harapan hidup orang Indonesia, dengan demikian tentu masa tua akan kita lalui. 

Nah, yang menjadi suatu kondisi yang harus dipahami adalah, pada saat kita beranjak tua, kondisi fisik badan kita ini pada umumnya menurun. Ada yang mulai naik tangga aja ngos-ngosan, biasanya jogging mulai diganti menjadi jalan santai. Pendapatan pun demikian, masa pensiun di perusahaan pada umumnya berada di usia 55 tahun, tiap industri bisa berbeda. Setelah itu kebanyakan orang tidak lagi melanjutkan bekerja secara aktif dan hidup mengandalkan uang pensiun, yang belum tentu disiapkan dengan jumlah yang cukup.

Nanti dulu, kok seperti ada miss ya.. kita sudah tahu akan melalui masa tua nanti, tapi kita tidak menyiapkan. Memang nggak perlu ya melakukan persiapan? 

 “Gimana nanti aja deh, mas”
 “Rezeki sudah ada yang mengatur, mas”. 

Tapi tahu ngga sih, pada zaman Nabi Yusuf, Raja Mesir saja melakukan persiapan panjang selama tujuh tahun masa panen yang subur dengan menyisihkan hasilnya. Untuk apa? Untuk persiapan masa tujuh tahun paceklik pangan. Jadi Raja Mesir sudah tahu akan ada kondisi paceklik di masa depan yang akan dimulai tujuh tahun lagi, dan akan berlangsung selama tujuh tahun. Sehingga sebelum memasuki masa paceklik tersebut, persiapan sudah dilakukan untuk memastikan masa paceklik dapat dilalui dengan baik.

Lha, klau kita tahu kita akan menghadapi masa tua di mana ada kemungkinan kita tidak seproduktif sekarang, tidak lagi bekerja aktif, atau mungkin kita ingin lebih fokus kepada persiapan kehidupan selanjutnya (omong-omong, yang ini sudah pasti lho. Sudah ada persiapan kan?) maka sebaiknya kita sudah menyiapkan dana hari tua. 

“Sudah pak, pakai dana pensiun kantor, sama ada pesangon nanti” 

Oke sudah ada, sekarang pastikan dananya sudah cukup atau belum? Coba lihat saldonya, ada berapa.. kebanyakan akan menjawab, tidak tahu. Bagaimana kita tahu bahwa persiapannya sudah cukup? Dan memang kebutuhannya berapa yang kira-kira cukup, itu pun masih banyak yang sulit menjawab. Sementara ini bisa diperkirakan dengan cara paling sederhana, yaitu hitung kebutuhan tiap tahun, kalikan dengan berapa tahun masa tua yang akan dijalani hingga check in ke next life. Ketemu deh. 

Kalau mau lebih akurat, pakai asumsi inflasi, juga asumsi perkembangan di instrumen investasi, serta akurasi perhitungan kebutuhan hidup. Jika persiapan-persiapan itu sudah dilakukan, apa sudah pasti kita nggak akan terbelit utang lagi seperti Mr. X? Tidak mungkinkah kita masih mengalami masalah keuangan? Belum tentu juga sih, namanya juga manusia. Setidaknya kita sudah melakukan persiapan untuk hari esok, dan kemudian kita lanjutkan dengan bertakwa kepada Allah.