Salah satu alasan dari Goto dan Ruang guru melakukan “perampingan” ini adalah karena dampak dari kondisi perekonomian global. Saya berdoa semoga teman-teman dan saudara kita yang di-PHK diberikan kesabaran dan kemudahan dalam meneruskan karirnya, di bidang apapun kompetensi mereka.
Pada kondisi pandemi, beberapa perencana keuangan bahkan menyarankan untuk menambahkan jumlah tersebut hingga 24 bulan pengeluaran. Mengapa demikian? Tak lain tak bukan karena kondisi ketidakpastian yang masih rawan terjadi.
Pandemi diprediksikan berakhir beberapa tahun lagi, ada yang mengatakan tahun 2025. Kondisi geopolitik dunia pun juga dinamis, seperti perang Rusia-Ukraina, hubungan antara China-Taiwan yang kadang memanas, maka persiapan terbaik layak dilakukan. Namun mengumpulkan dana darurat sebanyak 3 bulan pengeluaran saja sepertinya sudah menjadi suatu tantangan tersendiri, apalagi 24 bulan!
“Mana bisa bro, boro-boro 3 bulan dana darurat, buat makan seminggu ke depan aja masih pusing! Belum cicilan utang yang menjulang!”.
Godaan jaman now memang banyak sekali, tawaran diskon ini, diskon itu, cicilan later ini, cicilan later itu, mau healing ke sana, healing ke sini. Diskon 1.1, 2.2, 3.3 sampe 12.12 selalu dinantikan tiap bulan. Dan itu semua hadir di dalam genggaman kita! Nggak laki nggak perempuan, sama saja. Kalau sudah pegang ponsel, lalu membuka aplikasi marketlace, pilih barang, masukin keranjang, lalu pakai later atau kartu kredit, 2 hari kemudian datang deh barangnya.
Ada 3 kriteria penempatan dana darurat, dan sekaligus nanti akan kita lihat contoh instrumen yang cocok dengan kriteria tersebut.
1. Aman
Yang pertama, dana darurat harus ditempatkan di instrumen yang aman. Sebagai contoh, rekening tabungan di bank. Tingkat keamanan bank sudah sangat baik. Sebisa mungkin bukalah rekening di bank yang mengikuti program LPS. Reksadana pasar uang juga cukup aman karena terdaftar dalam sistem Kustodian Sentral Efek Indonesia. Cara membelinya pun sangat mudah, bisa melalui aplikasi dalam gadget kita.
Kemudian logam mulia, seperti emas atau perak. Dari sisi nilai, logam mulia menunjukan tren peningkatan dalam jangka panjang, namun berfluktuasi dalam jangka pendek. Maka Anda harus perhatikan jumlah dana darurat yang ditempatkan di logam mulia, jangan semuanya dalam bentuk logam mulia. Dari risiko kehilangan, logam mulia berpotensi hilang dicuri. Maka tempatkan di tempat yang aman seperti safe deposit box atau brankas di rumah.
Syarat keamanan lainnya termasuk keamanan dari ancaman penurunan nilai. Nah ini agak tricky untuk rekening tabungan. Dari sisi keamanan fisiknya, tabungan di bank dapat dikatakan sangat aman. Tapi dari sisi penurunan nilai, uang berpotensi turun nilainya akibat inflasi.
Karena dari sisi keamanan fisik rekening tabungan memiliki keunggulan, maka tempatkan dengan jumlah yang optimal.
Logam mulia unggul di keamanan nilai, namun dari sisi keamanan fisik, perlu tempat penyimpanan yang mungkin membutuhkan biaya tambahan. Reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan lain karena secara nilai bisa naik dan dari sisi keamanan bisa diandalkan. Jadi pertimbangkanlah proporsi yang optimal untuk masing-masing instrumen.
Likuid, artinya cair, dalam arti mudah dicairkan atau dikonversi menjadi uang tunai apabila bentuknya bukan uang tunai. Jika instrumennya berupa rekening tabungan, maka untuk menjadikannya uang tunai, cukup diambil di ATM. Bisa juga digunakan untuk keadaan darurat secara digital atau melalui transfer.
Jika bentuknya logam mulia, maka perlu dijual dulu atau dengan ditukar.
Salah satu kelebihan logam mulia adalah sifatnya yang universal diterima di seluruh dunia. Sedangkan reksadana pasar uang perlu beberapa hari kerja untuk redemption hingga dana masuk ke rekening, namun ini dianggap masih cukup likuid.
3. Mudah diakses
Instrumen penempatan dana darurat juga harus mudah diakses. Artinya mudah Anda jangkau dan akses untuk digunakan. Jika dana darurat ditempatkan di rekening tabungan, maka ada mobile banking, ada ATM yang tersedia di banyak lokasi.
Logam mulia, Anda cukup mengambil emas atau peraknya, kemudian menjualnya ke toko atau ke teman.
Perlu dipertimbangkan jika logam mulia disimpan di SDB, apakah lokasi SDB mudah dijangkau dan selalu buka setiap hari. Bayangkan Anda perlu dana darurat dalam 3 jam ke depan, sementara sekarang adalah hari Minggu pagi dimana kantor SDB baru buka Senin, alhasil logam mulia baru bisa diambil besok.
Mengakses reksadana pasar uang cukup melalui jempol di gadget dan tunggu beberapa hari baru cair. Coba bayangkan Anda menempatkan dana darurat di properti, sudah mencari pembelinya susah, kesepakatan harga juga tidak mudah dicapai, perlu prosedur ke notaris kemudian baru dana darurat dapat diakses.
emikianlah 3 kriteria utama untuk penempatan dana darurat yang bisa Anda terapkan. Sekarang, waktunya Anda menyiapkan dana darurat tersebut dengan menggunakan perencanaan Keuangan pribadi agar Anda siap menghadapi berbagai kemungkinan kondisi darurat!
No comments:
Post a Comment