Monday, 5 December 2022

3 Syarat Instrumen Keuangan Penempatan Dana Darurat

Beberapa waktu lalu, GoTo melakukan PHK pada sekitar 1300-an orang karyawannya. Disusul kemudian Ruang Guru juga melakukan PHK ratusan karyawannya. Total ada sekitar 18 perusahaan di Indonesia yang diterjang badai PHK seperti dilansir Detikcom. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah ini dampak awal dari resesi yang belakangan sering diperbincangkan? 

Salah satu alasan dari Goto dan Ruang guru melakukan “perampingan” ini adalah karena dampak dari kondisi perekonomian global. Saya berdoa semoga teman-teman dan saudara kita yang di-PHK diberikan kesabaran dan kemudahan dalam meneruskan karirnya, di bidang apapun kompetensi mereka.

 

Kali ini kita tidak akan membahas mengenai resesi atau perekonomian global. Bahasan kita kali ini adalah mengenai dana darurat, yang menurut saya akan sangat berguna bagi kita semua dalam melakukan perencanaan Keuangan. Anda pasti sudah sering mendengar istilah dana darurat dalam perencanaan keuangan bukan? Sesuai dengan namanya, maka dana darurat adalah dana yang akan digunakan pada saat keadaan darurat, dan salah satu contoh yang sering digunakan adalah apabila seseorang terkena PHK. Besar jumlah dana darurat yang disarankan minimal sebesar 3 bulan pengeluaran. Rentang atasnya bisa sampai sebesar 12 bulan pengeluaran. 

Pada kondisi pandemi, beberapa perencana keuangan bahkan menyarankan untuk menambahkan jumlah tersebut hingga 24 bulan pengeluaran. Mengapa demikian? Tak lain tak bukan karena kondisi ketidakpastian yang masih rawan terjadi. Pandemi diprediksikan berakhir beberapa tahun lagi, ada yang mengatakan tahun 2025. Kondisi geopolitik dunia pun juga dinamis, seperti perang Rusia-Ukraina, hubungan antara China-Taiwan yang kadang memanas, maka persiapan terbaik layak dilakukan. Namun mengumpulkan dana darurat sebanyak 3 bulan pengeluaran saja sepertinya sudah menjadi suatu tantangan tersendiri, apalagi 24 bulan! 

 “Mana bisa bro, boro-boro 3 bulan dana darurat, buat makan seminggu ke depan aja masih pusing! Belum cicilan utang yang menjulang!”. 

 Godaan jaman now memang banyak sekali, tawaran diskon ini, diskon itu, cicilan later ini, cicilan later itu, mau healing ke sana, healing ke sini. Diskon 1.1, 2.2, 3.3 sampe 12.12 selalu dinantikan tiap bulan. Dan itu semua hadir di dalam genggaman kita! Nggak laki nggak perempuan, sama saja. Kalau sudah pegang ponsel, lalu membuka aplikasi marketlace, pilih barang, masukin keranjang, lalu pakai later atau kartu kredit, 2 hari kemudian datang deh barangnya.

 

Jadi, apabila kita kembali ke dana darurat, dari jumlah 3 bulan tadi yang minimal dikumpulkan sebagai dana darurat, maka dana tersebut harus ditempatkan di lokasi yang terpisah dengan lokasi dana operasional sehari-hari. Misal dana darurat ditempatkan di rekening bank, maka rekening bank dana darurat tidak boleh bercampur dengan rekening operasional sehari-hari. Oh iya, saya bukan orang bank ya, nanti dikira saya agen marketing bank sehingga Anda harus buka rekening baru dengan biaya administrasi tambahan tiap bulannya. 

Ada 3 kriteria penempatan dana darurat, dan sekaligus nanti akan kita lihat contoh instrumen yang cocok dengan kriteria tersebut. 
1. Aman 
Yang pertama, dana darurat harus ditempatkan di instrumen yang aman. Sebagai contoh, rekening tabungan di bank. Tingkat keamanan bank sudah sangat baik. Sebisa mungkin bukalah rekening di bank yang mengikuti program LPS. Reksadana pasar uang juga cukup aman karena terdaftar dalam sistem Kustodian Sentral Efek Indonesia. Cara membelinya pun sangat mudah, bisa melalui aplikasi dalam gadget kita. 

Kemudian logam mulia, seperti emas atau perak. Dari sisi nilai, logam mulia menunjukan tren peningkatan dalam jangka panjang, namun berfluktuasi dalam jangka pendek. Maka Anda harus perhatikan jumlah dana darurat yang ditempatkan di logam mulia, jangan semuanya dalam bentuk logam mulia. Dari risiko kehilangan, logam mulia berpotensi hilang dicuri. Maka tempatkan di tempat yang aman seperti safe deposit box atau brankas di rumah. 

Syarat keamanan lainnya termasuk keamanan dari ancaman penurunan nilai. Nah ini agak tricky untuk rekening tabungan. Dari sisi keamanan fisiknya, tabungan di bank dapat dikatakan sangat aman. Tapi dari sisi penurunan nilai, uang berpotensi turun nilainya akibat inflasi. Karena dari sisi keamanan fisik rekening tabungan memiliki keunggulan, maka tempatkan dengan jumlah yang optimal.

Logam mulia unggul di keamanan nilai, namun dari sisi keamanan fisik, perlu tempat penyimpanan yang mungkin membutuhkan biaya tambahan. Reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan lain karena secara nilai bisa naik dan dari sisi keamanan bisa diandalkan. Jadi pertimbangkanlah proporsi yang optimal untuk masing-masing instrumen.

 

2. Likuid 
Likuid, artinya cair, dalam arti mudah dicairkan atau dikonversi menjadi uang tunai apabila bentuknya bukan uang tunai. Jika instrumennya berupa rekening tabungan, maka untuk menjadikannya uang tunai, cukup diambil di ATM. Bisa juga digunakan untuk keadaan darurat secara digital atau melalui transfer. Jika bentuknya logam mulia, maka perlu dijual dulu atau dengan ditukar. 

Salah satu kelebihan logam mulia adalah sifatnya yang universal diterima di seluruh dunia. Sedangkan reksadana pasar uang perlu beberapa hari kerja untuk redemption hingga dana masuk ke rekening, namun ini dianggap masih cukup likuid. 

3. Mudah diakses 
Instrumen penempatan dana darurat juga harus mudah diakses. Artinya mudah Anda jangkau dan akses untuk digunakan. Jika dana darurat ditempatkan di rekening tabungan, maka ada mobile banking, ada ATM yang tersedia di banyak lokasi. Logam mulia, Anda cukup mengambil emas atau peraknya, kemudian menjualnya ke toko atau ke teman. 

Perlu dipertimbangkan jika logam mulia disimpan di SDB, apakah lokasi SDB mudah dijangkau dan selalu buka setiap hari. Bayangkan Anda perlu dana darurat dalam 3 jam ke depan, sementara sekarang adalah hari Minggu pagi dimana kantor SDB baru buka Senin, alhasil logam mulia baru bisa diambil besok.

Mengakses reksadana pasar uang cukup melalui jempol di gadget dan tunggu beberapa hari baru cair. Coba bayangkan Anda menempatkan dana darurat di properti, sudah mencari pembelinya susah, kesepakatan harga juga tidak mudah dicapai, perlu prosedur ke notaris kemudian baru dana darurat dapat diakses. 


emikianlah 3 kriteria utama untuk penempatan dana darurat yang bisa Anda terapkan. Sekarang, waktunya Anda menyiapkan dana darurat tersebut dengan menggunakan perencanaan Keuangan pribadi agar Anda siap menghadapi berbagai kemungkinan kondisi darurat!

No comments:

Post a Comment