Monday, 12 December 2022

3 Hal Utama Penyebab Kesulitan Membayar Utang

Pernahkah Anda merasa kesulitan membayar cicilan utang? Entah itu utang kartu kredit, utang pinjaman online, KTA, KPR,  atau later-later yang sering diiklankan. Pada saat jatuh tempo, kok rasa-rasanya cepat sekali sudah datang waktu untuk membayar cicilan kembali. Atau saat jatuh tempo, uang di dompet sudah menipis, hanya cukup untuk kebutuhan pokok saja sampai gajian berikutnya, sementara cicilan masih ada yang harus dibayar. Bikin mumet saja.

Dana darurat untuk berjaga-jaga? Nggak punya juga… rasa-rasanya mau menabung saja susah… Tidak pernah ada sisa uang gaji di akhir bulan. Bikin pusing ya? Yuk, mari kita lihat penyebab umum yang sering mengakibatkan orang kesulitan membayar utang.



1.       Tidak Dapat Mengontrol Diri

Kok bisa self control dikaitkan dengan pembayaran tidak bisa membayar utang? Ini tidak lain disebabkan tali kendali yang lepas pada saat memutuskan untuk berutang. Dulu kala, orang berutang memang benar-benar uang untuk bertahan hidup. Uang sudah benar-benar ngga ada lagi di kantong, bekerja sana-sini tetap saja tidak cukup hasilnya. Sehingga opsi yang dipilih akhirnya berutang.

Namun di zaman now, untuk makan siang saja kita kadang berutang, untuk sekedar belanja online pun berutang, padahal uang di tabungan ada. Belum lagi untuk benda atau hal-hal lain yang tidak menjadi kebutuhan utama.



Banyak sekali momen terjadinya pergulatan panjang layaknya kisah perang Baratayuda antara Pandawa dan Kurawa. Cuma kali ini perangnya antara kebutuhan dan keinginan.  Jika memang Anda berutang karena kebutuhan, it’s fine. Tapi jika berutang karena menginginkan sesuatu, itu menjadi hal lain. Faktanya adalah sering kali tidak terjadi perang, alias tanpa terjadi perang, “keinginan” sudah terpilih sebagai pemenang. Jarang sekali kita berpikir 3 kali untuk suatu hal yang akan kita beli, layakkah dipenuhi dengan utang?

Contoh sederhana, mau beli gadget baru, sementara gadget lama masih layak pakai. Gadget baru akan dibeli karena lebih trendy, bagus, dan lain-lain. Harganya sekitar setengah gaji bulanan. Lihat saldo tabungan, tidak sampai setengah bulan gaji. Kartu kredit di dompet, ada. Aman… Bulan depan bayar tinggal bayar 10%, alhasil utang muncul. Gadget lama? Masuk laci, alasannya buat cadangan.

Keputusan-keputusan seperti contoh tersebut, seringkali diambil dengan cepat dan emosional tanpa melibatkan logika dan mempertimbangkan apakah termasuk kebutuhan atau keinginan. Jika perang antara kebutuhan dan keinginan sudah diputuskan pemenangnya, kita lanjut ke poin kedua.

2.       Tidak Melakukan Financial Check Up

Hal ini juga sering menjadi penyebab kesulitan seseorang membayar utang. Banyak sekali yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya dirinya tidak layak berutang. Arus kas keluarga masih defisit, kemudian rasio pembayaran utang sebelumnya sudah mencapai hingga 35% lebih. Sebagai contoh, melanjutkan dari gadget tadi, pada saat muncul saldo kartu kredit, karena jumlahnya separuh gaji bulanan sementara dana idle tidak sebesar itu, alhasil saldo utang kartu kredit tidak bisa dibayar lunas. Yang dibayar hanya 10% saja sesuai pembayaran minimum, pada  akhirnya muncul saldo utang, dan tentu… bunga.



Jika memang Anda menggunakan kartu kredit untuk memenuhi keinginan, sebaiknya pastikan Anda sudah memiliki tabungan yang cukup untuk membayar semua saldo. Sehingga fungsi kartu kredit hanyalah sebagai alat bantu transaksi. Kebiasaan membayar minimal pada kartu kredit akan membuat bunga menumpuk dan menjadi sangat lama untuk lunas.

3.       Tidak Mau Mengurangi Utang

Maksud poin ketiga ini adalah, jika seseorang telah mengetahui bahwa dirinya mengalami kesulitan dalam membayar utang, namun tidak mau berusaha untuk menanggulangi masalah tersebut. Salah satu cara adalah dengan melunasi seluruh atau sebagian pokok utang, atau mencoba melakukan refinancing, sehingga arus kas ke depan dapat menjadi lebih ringan.

Alih-alih melakukan hal tersebut, yang dilakukan adalah justru berutang ke tempat lain untuk membayar cicilan utangnya tersebut. Fenomena ini sering disebut Gali Lubang Tutup Lubang, seperti lagu Bang Haji Rhoma Irama. Membayar cicilan utang dengan utang lainnya. Padahal, aset di rumahnya cukup banyak yang dapat dijual untuk mengurangi pokok utang.

Misalnya mobil, motor, perhiasan, dan lainnya.  Menjual aset salah satu cara untuk mengurangi pokok utang, syukur-syukur bisa dengan berkurangnya pokok tersebut maka cicilan utang bulanan pun menurun. Atau penjualan aset bisa melunasi cicilan bulanan selama beberapa waktu, sehingga ada kesempatan untuk menabung atau mencari sumber penghasilan lain tanpa gangguan.

 

Semoga kita semua dilindungi dari kesulitan dalam melakukan pembayaran cicilan utang. Lebih enak lagi memang tidak memiliki utang. Bebas tanpa kewajiban pembayaran bulanan.. Namun jika memang harus berutang, pastikanlah bahwa memang kita harus utang sebagai sumber pendanaan untuk memenuhi kebutuhan. Pertimbangkan dengan kepala dingin sebelum memutuskan.



No comments:

Post a Comment