Pernahkah Anda merasa kesulitan membayar cicilan utang? Entah itu utang kartu kredit, utang pinjaman online, KTA, KPR, atau later-later yang sering diiklankan. Pada saat jatuh tempo, kok rasa-rasanya cepat sekali sudah datang waktu untuk membayar cicilan kembali. Atau saat jatuh tempo, uang di dompet sudah menipis, hanya cukup untuk kebutuhan pokok saja sampai gajian berikutnya, sementara cicilan masih ada yang harus dibayar. Bikin mumet saja.
Dana darurat untuk berjaga-jaga? Nggak punya
juga… rasa-rasanya mau menabung saja susah… Tidak pernah ada sisa uang gaji di
akhir bulan. Bikin pusing ya? Yuk, mari kita lihat penyebab umum yang sering mengakibatkan
orang kesulitan membayar utang.
1. Tidak Dapat Mengontrol Diri
Kok
bisa self control dikaitkan dengan pembayaran tidak bisa membayar utang?
Ini tidak lain disebabkan tali kendali yang lepas pada saat memutuskan untuk
berutang. Dulu kala, orang berutang memang benar-benar uang untuk bertahan
hidup. Uang sudah benar-benar ngga ada lagi di kantong, bekerja sana-sini tetap
saja tidak cukup hasilnya. Sehingga opsi yang dipilih akhirnya berutang.
Namun
di zaman now, untuk makan siang saja kita kadang berutang, untuk sekedar
belanja online pun berutang, padahal uang di tabungan ada. Belum lagi untuk
benda atau hal-hal lain yang tidak menjadi kebutuhan utama.
Banyak
sekali momen terjadinya pergulatan panjang layaknya kisah perang Baratayuda antara
Pandawa dan Kurawa. Cuma kali ini perangnya antara kebutuhan dan keinginan. Jika memang Anda berutang karena kebutuhan,
it’s fine. Tapi jika berutang karena menginginkan sesuatu, itu menjadi hal lain.
Faktanya adalah sering kali tidak terjadi perang, alias tanpa terjadi perang, “keinginan”
sudah terpilih sebagai pemenang. Jarang sekali kita berpikir 3 kali untuk suatu
hal yang akan kita beli, layakkah dipenuhi dengan utang?
Contoh sederhana, mau beli gadget baru, sementara gadget lama masih layak pakai. Gadget baru akan dibeli karena lebih trendy, bagus, dan lain-lain. Harganya sekitar setengah gaji bulanan. Lihat saldo tabungan, tidak sampai setengah bulan gaji. Kartu kredit di dompet, ada. Aman… Bulan depan bayar tinggal bayar 10%, alhasil utang muncul. Gadget lama? Masuk laci, alasannya buat cadangan.
Keputusan-keputusan
seperti contoh tersebut, seringkali diambil dengan cepat dan emosional tanpa
melibatkan logika dan mempertimbangkan apakah termasuk kebutuhan atau
keinginan. Jika perang antara kebutuhan dan keinginan sudah diputuskan
pemenangnya, kita lanjut ke poin kedua.
2. Tidak Melakukan Financial Check Up
Hal
ini juga sering menjadi penyebab kesulitan seseorang membayar utang. Banyak
sekali yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya dirinya tidak layak berutang.
Arus kas keluarga masih defisit, kemudian rasio pembayaran utang sebelumnya
sudah mencapai hingga 35% lebih. Sebagai contoh, melanjutkan dari gadget
tadi, pada saat muncul saldo kartu kredit, karena jumlahnya separuh gaji bulanan
sementara dana idle tidak sebesar itu, alhasil saldo utang kartu kredit tidak
bisa dibayar lunas. Yang dibayar hanya 10% saja sesuai pembayaran minimum, pada
akhirnya muncul saldo utang, dan tentu…
bunga.
Jika
memang Anda menggunakan kartu kredit untuk memenuhi keinginan, sebaiknya
pastikan Anda sudah memiliki tabungan yang cukup untuk membayar semua saldo. Sehingga
fungsi kartu kredit hanyalah sebagai alat bantu transaksi. Kebiasaan membayar
minimal pada kartu kredit akan membuat bunga menumpuk dan menjadi sangat lama untuk
lunas.
3. Tidak Mau Mengurangi Utang
Maksud
poin ketiga ini adalah, jika seseorang telah mengetahui bahwa dirinya mengalami
kesulitan dalam membayar utang, namun tidak mau berusaha untuk menanggulangi
masalah tersebut. Salah satu cara adalah dengan melunasi seluruh atau sebagian pokok
utang, atau mencoba melakukan refinancing, sehingga arus kas ke depan dapat
menjadi lebih ringan.
Alih-alih
melakukan hal tersebut, yang dilakukan adalah justru berutang ke tempat lain
untuk membayar cicilan utangnya tersebut. Fenomena ini sering disebut Gali
Lubang Tutup Lubang, seperti lagu Bang Haji Rhoma Irama. Membayar cicilan utang
dengan utang lainnya. Padahal, aset di rumahnya cukup banyak yang dapat dijual
untuk mengurangi pokok utang.
Misalnya
mobil, motor, perhiasan, dan lainnya. Menjual
aset salah satu cara untuk mengurangi pokok utang, syukur-syukur bisa dengan
berkurangnya pokok tersebut maka cicilan utang bulanan pun menurun. Atau
penjualan aset bisa melunasi cicilan bulanan selama beberapa waktu, sehingga
ada kesempatan untuk menabung atau mencari sumber penghasilan lain tanpa gangguan.
Semoga kita semua dilindungi dari kesulitan
dalam melakukan pembayaran cicilan utang. Lebih enak lagi memang tidak memiliki
utang. Bebas tanpa kewajiban pembayaran bulanan.. Namun jika memang harus
berutang, pastikanlah bahwa memang kita harus utang sebagai sumber pendanaan
untuk memenuhi kebutuhan. Pertimbangkan dengan kepala dingin sebelum
memutuskan.
No comments:
Post a Comment