Tuesday, 6 December 2022

Siapkan 4 Hal Ini Untuk Menghadapi Resesi

Resesi… kata-kata ini begitu sering terlintas dalam lini masa kita, baik di media sosial maupun saat melakukan percakapan dengan teman, kolega, dan sahabat-sahabat. Ada yang kuatir dengan dampak resesi, ada juga yang cuek saja. Toh itu semua masih kemungkinan, begitu katanya. Kita tentu tidak mengharapkan resesi terjadi sehingga tidak akan membawa dampak buruk pada kehidupan. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai persiapan, sehingga kita tidak akan terlalu kaget apabila di kemudian hari resesi benar-benar terjadi.



1.    Jangan panik

Hal pertama yang harus dilakukan apabila terjadi resesi adalah stay calm. Tetap tenang dan jangan panik. Ini sangat penting untuk diingat, dan sebaiknya dilakukan. Jangan sampai gegabah dalam melakukan pengambilan keputusan, terutama keputusan keuangan yang signifikan, termasuk pada saat resesi belum terjadi. Kondisi keuangan mungkin saja terpengaruh saat terjadinya resesi, namun sebaiknya tidak perlu panik berlebihan.

Waspada, jelas perlu. Persiapan, sudah pasti harus dilakukan.

Jadi jangan sampai Anda malah sudah melakukan keputusan-keputusan keuangan yang belum tentu menguntungkan di saat ini, hanya karena panik akan resesi yang belum tentu terjadi nanti. Tetap tenang dan tetapkan segala hal penting dengan kepala dingin.

2.    Dana darurat

Siapkan dana cadangan atau darurat dalam jumlah yang cukup. Yang namanya dana darurat sebenarnya tidak berguna hanya pada saat resesi. Dana darurat juga akan berguna saat terjadi kondisi emergency di saat perekonomian berjalan normal. Kita tentu berharap kondisi tersebut tidak pernah kita harapkan terjadi, sehingga kita tidak akan pernah menggunakan dana darurat.



Ya, sebenarnya dana darurat hanya boleh digunakan pada saat kondisi darurat terjadi. Intinya, dana itu baru akan digunakan pada saat kondisi yang tidak enak, tidak nyaman. Misalnya, saat kondisi sakit sedangkan asuransi kantor tidak meng-cover jenis penanganan pengobatannya.

Contoh lain adalah kondisi kendaraan operasional utama sudah tua dan sering sakit-sakitan sehingga dibutuhkan kendaraan yang lebih layak dengan segera. Dan contoh saat ini yang sedang marak terjadi, bahkan di media-media disebut sebagai “badai”, adalah saat di-PHK.

Jumlah dana darurat yang minimal dimiliki adalah sebesar 3 bulan pengeluaran, namun pada saat pandemi dan kondisi yang VUCA seperti sekarang, jumlahnya boleh dinaikkan hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Siapa yang menyangka di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca pandemi, ternyata PHK marak terjadi dan sulit mendapat lapangan pekerjaan baru. Bisa jadi dibutuhkan waktu hingga 12 bulan untuk mencari pekerjaan utama pengganti, sehingga di sinilah dana darurat berperan untuk menggantikan penghasilan utama yang hilang..

3.    Mencari sumber pendapatan lain

Resesi adalah saat-saat yang penuh dengan ketidakpastian. Jika kita sudah melakukan Langkah-langkah yang sebelumnya telah dijelaskan, tidak panik, lalu tetap menjaga kewaspadaan, dana darurat pun juga telah disiapkan dengan jumlah yang cukup, tetap saja kondisi ketidakpastian menyelimuti perekonomian. Apabila kita adalah seorang pemilik usaha, maka fluktuasi omset menjadi hal yang dikuatirkan. Apabila kita adalah seorang karyawan, maka badai PHK juga mungkin saja terjadi di perusahaan yang kita cintai.

Adanya pendapatan lain di luar pendapatan utama saat ini bisa menjadi jalan keluar apabila kita benar benar terkena PHK, atau sumber penghasilan utama terpengaruh oleh resesi, missal terjadi pengurangan gaji. Jagalah hubungan dengan orang-orang terdekat kita, apabila ada peluang dari network untuk menambah penghasilan, tidak ada salahnya mencoba peluang tersebut. Manfaatkan skill serta sumber daya yang kita miliki, lalu lakukan eksploitasi agar kemampuan yang kita miliki bisa manambah penghasilan.

4.    Tetap lakukan konsumsi

Sebagian besar perekonomian Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi. Sehingga apabila masyarakat menghentikan konsumsi secara serentak di kala resesi, justru akan semakin memperparah dampaknya. Kita bisa melihat contoh pada saat pandemi. Di saat PPKM atau lock down diterapkan secara masif, maka banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan work from home. Pergerakan manusia di luar rumah pun menurun drastis. Dampaknya antara lain, penurunan beberapa sektor industri, seperti pariwisata, transportasi, serta di sektor informal yang sangat besar jumlahnya di Indonesia.



Usaha makanan minuman informal seperti warteg, warungkaki lima, gerobak dorong, starling, pedagang keliling, yang biasanya ramai berusaha di sepanjang hari, banyak sekali yang terpaksa tidak dapat berjualan. Itu hanya sebagian contoh saja. Memang sebagian sektor industri lain meningkat di kala pandemi, seperti sektor kesehatan dan jasa ekspedisi. Namun lebih banyak yang terpengaruh negatif akibat berhentinya konsumsi masyarakat. Apabila resesi terjadi, maka konsumsi sebaiknya tidak diturunkan secara drastis.

Penyesuaian dengan kondisi saat resesi memang mutlak diperlukan, namun jangan sampai berhenti total. Banyak saudara-saudara kita yang bergantung kehidupannya dari sektor yang mengandalkan konsumsi masyarakat.

Resesi memang masih berpotensi terjadi di Indonesia, dan hal tersebut di luar kontrol kita karena banyak sekali faktor yang menyebabkan dunia dilanda badai resesi. Apakah akan ada resesi atau tidak, sepatutnya kita tetap mengusahakan persiapan yang terbaik, kemudian berdoa agar kita tetap diberikan kekuatan untuk menghadapi resesi apabila benar benar terjadi.



No comments:

Post a Comment