Resesi… kata-kata ini begitu sering terlintas dalam lini masa kita, baik di media sosial maupun saat melakukan percakapan dengan teman, kolega, dan sahabat-sahabat. Ada yang kuatir dengan dampak resesi, ada juga yang cuek saja. Toh itu semua masih kemungkinan, begitu katanya. Kita tentu tidak mengharapkan resesi terjadi sehingga tidak akan membawa dampak buruk pada kehidupan. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai persiapan, sehingga kita tidak akan terlalu kaget apabila di kemudian hari resesi benar-benar terjadi.
1. Jangan panik
Hal
pertama yang harus dilakukan apabila terjadi resesi adalah stay calm.
Tetap tenang dan jangan panik. Ini sangat penting untuk diingat, dan sebaiknya dilakukan.
Jangan sampai gegabah dalam melakukan pengambilan keputusan, terutama keputusan
keuangan yang signifikan, termasuk pada saat resesi belum terjadi. Kondisi keuangan
mungkin saja terpengaruh saat terjadinya resesi, namun sebaiknya tidak perlu
panik berlebihan.
Waspada,
jelas perlu. Persiapan, sudah pasti harus dilakukan.
Jadi
jangan sampai Anda malah sudah melakukan keputusan-keputusan keuangan yang
belum tentu menguntungkan di saat ini, hanya karena panik akan resesi yang belum
tentu terjadi nanti. Tetap tenang dan tetapkan segala hal penting dengan kepala
dingin.
2. Dana darurat
Siapkan
dana cadangan atau darurat dalam jumlah yang cukup. Yang namanya dana darurat
sebenarnya tidak berguna hanya pada saat resesi. Dana darurat juga akan berguna
saat terjadi kondisi emergency di saat perekonomian berjalan normal. Kita
tentu berharap kondisi tersebut tidak pernah kita harapkan terjadi, sehingga
kita tidak akan pernah menggunakan dana darurat.
Ya, sebenarnya
dana darurat hanya boleh digunakan pada saat kondisi darurat terjadi. Intinya,
dana itu baru akan digunakan pada saat kondisi yang tidak enak, tidak nyaman. Misalnya,
saat kondisi sakit sedangkan asuransi kantor tidak meng-cover jenis
penanganan pengobatannya.
Contoh
lain adalah kondisi kendaraan operasional utama sudah tua dan sering
sakit-sakitan sehingga dibutuhkan kendaraan yang lebih layak dengan segera. Dan
contoh saat ini yang sedang marak terjadi, bahkan di media-media disebut
sebagai “badai”, adalah saat di-PHK.
Jumlah
dana darurat yang minimal dimiliki adalah sebesar 3 bulan pengeluaran, namun
pada saat pandemi dan kondisi yang VUCA seperti sekarang, jumlahnya boleh
dinaikkan hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Siapa yang menyangka di tengah
pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca pandemi, ternyata PHK marak terjadi dan
sulit mendapat lapangan pekerjaan baru. Bisa jadi dibutuhkan waktu hingga 12
bulan untuk mencari pekerjaan utama pengganti, sehingga di sinilah dana darurat
berperan untuk menggantikan penghasilan utama yang hilang..
3. Mencari sumber pendapatan lain
Resesi
adalah saat-saat yang penuh dengan ketidakpastian. Jika kita sudah melakukan
Langkah-langkah yang sebelumnya telah dijelaskan, tidak panik, lalu tetap menjaga
kewaspadaan, dana darurat pun juga telah disiapkan dengan jumlah yang cukup,
tetap saja kondisi ketidakpastian menyelimuti perekonomian. Apabila kita adalah
seorang pemilik usaha, maka fluktuasi omset menjadi hal yang dikuatirkan.
Apabila kita adalah seorang karyawan, maka badai PHK juga mungkin saja terjadi
di perusahaan yang kita cintai.
Adanya
pendapatan lain di luar pendapatan utama saat ini bisa menjadi jalan keluar apabila
kita benar benar terkena PHK, atau sumber penghasilan utama terpengaruh oleh
resesi, missal terjadi pengurangan gaji. Jagalah hubungan dengan orang-orang
terdekat kita, apabila ada peluang dari network untuk menambah
penghasilan, tidak ada salahnya mencoba peluang tersebut. Manfaatkan skill serta
sumber daya yang kita miliki, lalu lakukan eksploitasi agar kemampuan yang kita
miliki bisa manambah penghasilan.
4. Tetap lakukan konsumsi
Sebagian
besar perekonomian Indonesia ditopang oleh sektor konsumsi. Sehingga apabila
masyarakat menghentikan konsumsi secara serentak di kala resesi, justru akan
semakin memperparah dampaknya. Kita bisa melihat contoh pada saat pandemi. Di
saat PPKM atau lock down diterapkan secara masif, maka banyak perusahaan
yang menerapkan kebijakan work from home. Pergerakan manusia di luar
rumah pun menurun drastis. Dampaknya antara lain, penurunan beberapa sektor
industri, seperti pariwisata, transportasi, serta di sektor informal yang
sangat besar jumlahnya di Indonesia.
Usaha
makanan minuman informal seperti warteg, warungkaki lima, gerobak dorong,
starling, pedagang keliling, yang biasanya ramai berusaha di sepanjang hari,
banyak sekali yang terpaksa tidak dapat berjualan. Itu hanya sebagian contoh
saja. Memang sebagian sektor industri lain meningkat di kala pandemi, seperti
sektor kesehatan dan jasa ekspedisi. Namun lebih banyak yang terpengaruh
negatif akibat berhentinya konsumsi masyarakat. Apabila resesi terjadi, maka
konsumsi sebaiknya tidak diturunkan secara drastis.
Penyesuaian
dengan kondisi saat resesi memang mutlak diperlukan, namun jangan sampai
berhenti total. Banyak saudara-saudara kita yang bergantung kehidupannya dari
sektor yang mengandalkan konsumsi masyarakat.
Resesi memang masih berpotensi terjadi di Indonesia, dan hal tersebut di luar kontrol kita karena banyak sekali faktor yang menyebabkan dunia dilanda badai resesi. Apakah akan ada resesi atau tidak, sepatutnya kita tetap mengusahakan persiapan yang terbaik, kemudian berdoa agar kita tetap diberikan kekuatan untuk menghadapi resesi apabila benar benar terjadi.
No comments:
Post a Comment