Dari wajah Mr. X kuperkirakan dia belum lama memulai masa pensiunnya. Mungkin baru 5 tahun. Namun saat ini beliau tengah mencari utangan akibat masalah keuangan yang dialaminya.
Sebagai catatan, saya bekerja di divisi keuangan, namun kan beda ya keuangan korporasi dengan keuangan pribadi. Untuk menjawab pertanyaan teman saya itu, saya biasanya menjawab, karena hobi. Namun hobi itu ternyata ada awalnya.
Peristiwa di Palembang itu mungkin pencetusnya, karena setelah peristiwa itu, saya membaca banyak buku, mengikuti banyak pelatihan, menulis, dan kadang memberikan sharing, mengenai perencanaan keuangan.
Namun setelah saya ulik-ulik lagi, ternyata dalam sejarah kehidupan pribadi yang saya lalui, banyak sekali kejadian terkait kondisi perencanaan keuangan yang buruk. Kondisi keuangan keluarga saat saya melalui masa kecil hingga lulus kuliah sebenarnya tidak lebih baik dari Mr. X, hanya saja saya tidak sadar. Dengan kata lain selama ini saya yang mengira kondisi keuangan keluarga baik-baik saja, ternyata salah. Dan sudah terlambat saat saya menyadari kondisi itu.
Kata om Mark Twain, “Bukan ketidaktahuan yang membuatmu dalam masalah, namun hal yang kamu yakini benar ternyata salah”.
Kondisi tidak sadar, atau meyakini semuanya baik-baik saja, itu ibarat bom waktu yang akan meledak pada saatnya nanti. Contohnya ya itu tadi. Mr. X adalah pensiunan middle level salah satu BUMN di Indonesia. Gaji saat aktif oke, fasilitas kerja oke, kehidupan mapan, fasilitas kesehatan saat pensiun pun masih dapat, dana pensiun bulanan ada. Lha emang masih kurang ya?
Usut punya usut, ternyata pesangon yang diterima habis untuk membangun rumah, traveling, mobil baru, dan hal konsumtif lainnya. Gaya hidup semasa aktif bekerja tetap dibawa pada saat sudah tidak aktif bekerja. Padahal uang pensiun bulanan yang diterima itu nge-drop banget sampai sekitar tinggal 5-10% saja. Alhasil perlahan namun pasti tabungan pun tergerus untuk mengimbangi gaya hidup. Persentase pensiun bulanan 5-10% ini bisa berbeda-beda ya tiap industri.
Sekarang bayangkan saja, dari gaji saat terakhir aktif bekerja, taruhlah 30 juta. Maka pensiun bulanan yang diterima hanya 3 juta? Iya kalau 30 juta, kalau kurang dari itu? Mau tidak mau life style yang tadinya 30 juta menjadi hanya 3 juta harus bisa disiasati dengan berbagai persiapan. Kalau ada persiapannya… kalau tidak?
Nah, yang menjadi suatu kondisi yang harus dipahami adalah, pada saat kita beranjak tua, kondisi fisik badan kita ini pada umumnya menurun. Ada yang mulai naik tangga aja ngos-ngosan, biasanya jogging mulai diganti menjadi jalan santai. Pendapatan pun demikian, masa pensiun di perusahaan pada umumnya berada di usia 55 tahun, tiap industri bisa berbeda. Setelah itu kebanyakan orang tidak lagi melanjutkan bekerja secara aktif dan hidup mengandalkan uang pensiun, yang belum tentu disiapkan dengan jumlah yang cukup.
Nanti dulu, kok seperti ada miss ya.. kita sudah tahu akan melalui masa tua nanti, tapi kita tidak menyiapkan. Memang nggak perlu ya melakukan persiapan?
“Gimana nanti aja deh, mas”
“Rezeki sudah ada yang mengatur, mas”.
Tapi tahu ngga sih, pada zaman Nabi Yusuf, Raja Mesir saja melakukan persiapan panjang selama tujuh tahun masa panen yang subur dengan menyisihkan hasilnya. Untuk apa? Untuk persiapan masa tujuh tahun paceklik pangan. Jadi Raja Mesir sudah tahu akan ada kondisi paceklik di masa depan yang akan dimulai tujuh tahun lagi, dan akan berlangsung selama tujuh tahun. Sehingga sebelum memasuki masa paceklik tersebut, persiapan sudah dilakukan untuk memastikan masa paceklik dapat dilalui dengan baik.
Lha, klau kita tahu kita akan menghadapi masa tua di mana ada kemungkinan kita tidak seproduktif sekarang, tidak lagi bekerja aktif, atau mungkin kita ingin lebih fokus kepada persiapan kehidupan selanjutnya (omong-omong, yang ini sudah pasti lho. Sudah ada persiapan kan?) maka sebaiknya kita sudah menyiapkan dana hari tua.
“Sudah pak, pakai dana pensiun kantor, sama ada pesangon nanti”
Oke sudah ada, sekarang pastikan dananya sudah cukup atau belum? Coba lihat saldonya, ada berapa.. kebanyakan akan menjawab, tidak tahu. Bagaimana kita tahu bahwa persiapannya sudah cukup? Dan memang kebutuhannya berapa yang kira-kira cukup, itu pun masih banyak yang sulit menjawab. Sementara ini bisa diperkirakan dengan cara paling sederhana, yaitu hitung kebutuhan tiap tahun, kalikan dengan berapa tahun masa tua yang akan dijalani hingga check in ke next life. Ketemu deh.
Kalau mau lebih akurat, pakai asumsi inflasi, juga asumsi perkembangan di instrumen investasi, serta akurasi perhitungan kebutuhan hidup.
Jika persiapan-persiapan itu sudah dilakukan, apa sudah pasti kita nggak akan terbelit utang lagi seperti Mr. X? Tidak mungkinkah kita masih mengalami masalah keuangan? Belum tentu juga sih, namanya juga manusia. Setidaknya kita sudah melakukan persiapan untuk hari esok, dan kemudian kita lanjutkan dengan bertakwa kepada Allah.
No comments:
Post a Comment